Banting setir. Istilah itu mulai ramai dibicarakan
pengembang. Maksudnya, semula mereka membangun rumah
mewah kini mulai memproduksi rumah menengah bawah. Tujuannya
tentu untuk mencari pasar yang lebih empuk.
Begitupun bagi pengembang yang lahannya kian menyempit, kini tak
lagi membangun rumah horisontal tetapi beralih ke apartemen.
Bukan hanya jenis produk yang berubah tetapi juga arsitektur dan
strategi pemasaran langsung berbalik 180 derajat.
Bagi Thomas Tjandrakusumah, asistant director PT Summarecon
Agung,strategi banting setir penting untuk memasarkan produk.
"Harus diakui bahwa pasar menengah atas makin lemah, sementara
pasar kelas bawah sangat kuat," ujarnya.
Tapi, tambahnya, harus diingat bahwa di antara mewah dan kelas
bawah ada celah yang belum tergarap maksimal. "Produk itulah yang
dibutuhkan konsumen," ujarnya.
Berangkat dari pemikiran itu, menurut Thomas, perusahaannya
membangun apartemen yang mengincar celah pasar antara bawah
dan mewah. "Produknya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan
selera konsumen," ujarnya.
Pengembang PT Sumarecon Agung, yang sukses memasarkan
perumahan dan pertokoan selama ini, pertengahan tahun ini
meluncurkan hunian vertikal apartemen Wisma Gading Permai yang
terletak di Bulevar Kelapa Gading.
'Perkawinan' arsitektur
Menurut Thomas, mengingat produknya relatif sederhana,
arsitekturnya pun harus mengikuti bangunan yang tidak terlalu besar.
Untuk itu dibutuhkan rancangan interior yang fleksibel.
Ng Ku Lai, technical advisor PT Summarecon Agung, mengatakan
arsitektur sederhana bagi apartemennya merupakan 'perkawinan'
antara Singapura dan Indonesia. "Ada beberapa apartemen di
daerah sub urban di Singapura yang seperti ini," ujar warga negara
Malaysia yang lama bermukim di Singapura itu.
Di sini, tambahnya, kami mencoba menawarkan produk ini dengan
gaya arsitektur yang fleksibel. Untuk bagian dalam, misalnya,
sengaja dibuat ruang-ruang khusus untuk AC. "Ini penting mengingat
cukup menghemat ruangan," ujarnya.
Begitu pun, menurut Lai, ruangan untuk menjemur pakaian yang
biasanya terabaikan. Banyak sekali apartemen yang membiarkan
penghuninya menjemur pakaian di luar jendela. "Anda bisa
bayangkan bagaimana pemandangan dari luar," ujarnya sambil
tersenyum.
Apartemen ini, tambahnya, menyiapkan ruang jemur yang kecil untuk
menghemat tempat tetapi cukup efektif. "Kelihatannya sederhana
dan spele tapi itu penting mengingat menjemur pakaian adalah
kebutuhan rutin setiap hari."
Apartemen dengan ukuran kecil, dalam pandangan Lai, tentu harus
pandai membagi dan mengatur ruangan. Misalnya untuk ruang tamu
yang membutuhkan paling tidak 9 m2. "Di apartemen yang kami
bangun, ruangan tamu dibuat di lantai dasar. Ya, semacam lobi di
hotel."
Selain menghemat tempat, tambahnya, juga menjaga privacy
penghuni. "Tamu tak perlu diajak masuk ke kamar. Di apartemen ini
disiapkan sedikitnya enam ruang tamu di lantai dasar," ujarnya.
Menurut Thomas, apartemen Wisma Gading Permai tiga menara
yang mencapai lebih dari 1.000 unit itu, telah terjual 98% dalam
tempo tiga bulan. Bulan lalu pengembang itu meluncurkan lagi tiga
menara apartemen sebanyak 1.193 unit Apartemen Gading Timur
yang berlokasi tidak jauh dari apartemen pertama.
Apartemen yang mengincar pasar kelas menengah dan menengah
bawah itu, menurut Thomas, dirancang unik baik harga maupun
penataan ruangnya. "Meskipun bukan apartemen mewah, namun
finishing-nya keramik."
Menurut dia, unit-unit ruangnya ditata sedemikian rupa sehingga
penghuninya dapat langsung menempati tanpa harus melakukan
renovasi besar-besaran.
Thomas menjelaskan ada empat tipe apartemennya yaitu tipe 37 M2,
43 M2, 35 M2, sampai 41 M2. Harga jualnya bervariasi antara Rp 50
sampai dengan Rp 70 juta.
Tiap menara apartemen dilengkapi dengan tiga lift, genset, dan
fasilitas parkir yang luas di tiap basement, lantai dasar, dan tempat
parkir khusus.
Menurut Thomas, menara A dan B Apartemen Kelapa Gading telah
diluncurkan pada September lalu. Menara A terjual 60% dan Menara
B sebanyak 30%. "Untuk menjaga lingkungan apartemen agar tetap
nyaman, kami hanya membangun 20% dari total luas lahan 1,3 ha,"
katanya.
Sisanya digunakan untuk taman parkir, arena bermain, taman-
taman, lahan terbuka lainnya.
Apartemen kantor
Jika selama ini dikenal istilah ruko alias rumah toko atau rukan
[rumah kantor], di Apartemen Gading Timur ada istilah baru untuk
apartemen kantor. "Sementara ini di Indonesia belum ada. Jadi agak
sulit mengistilahkannya," ujar Lai.
Di Singapura, tambahnya, ada beberapa produk seperti ini. Kantor
setinggi tiga lantai dengan luas sekitar 25.000 m2 dibangun menyatu
dengan apartemen. Memang menurut Lai, ini terobosan baru
sehingga kami juga belum tahu bagaimana respon masyarakat.
"Namun kami optimistis mengingat lokasi yang ditawarkan strategis
dan harga perkantoran ini relatif murah dibandingkan di prime area,"
ujar Lai.
PT Sumarecon Agung menawarkan dua lokasi apartemen di
lingkungan hunian itu. "Ini alternatif tepat untuk berhuni pada
kawasan yang menguntungkan untuk berniaga dan berinvestasi,"
ujar Thomas bernada promosi.
Kelapa Gading merupakan daerah di Jakarta Utara yang pada
mulanya rawa-rawa. Kini telah menjelma menjadi kawasan hunian
yang tumbuh pesat. PT Sumarecon Agung, pengembang pertama
yang pada tahun 1975 memulai mengembangkan hunian daerah itu
di atas lahan 10 ha dengan nama Kelapa Gading Permai.
Penduduk setempat menyebutkan daerah itu sebagai "tempat jin
buang anak." Setelah melalui perjalanan panjang kawasan kini
sebagai hunian prestisius yang kaya dengan fasilitas. Mulai dari
pusat perbelanjaan dan grosir, fasilitas pendidikan, pertokoan,
fasilitas olahraga, pusat jajan dan makanan, dan sarana komersial
lainnya, semua ada.
Citra kawasan Kelapa Gading pun kini makin dikenal luas sebagai
salah satu daerah elit di Jakarta.
Thomas mengaku banyak mengamati dan belajar dari pembangunan
apartemen oleh pengembang lain mengingat perusahaanya belum
banyak pengalaman dalam membangun apartemen.
Untuk itu, tambahnya, dalam soal ketepatan waktu penyelesaian
pembangunan kami berupaya untuk tidak melenceng dari komitmen
awal. "Kini telah mulai konstruksi pada saat pemasaran dimulai,"
kata Thomas.
Dari 20 bulan masa pembangunan yang dijanjikan kepada
konsumen, tambahnya, perusahaannya akan menyelesaikan dua
bulan lebih cepat. Wisma Gading Permai ditargetkan selesai pada
Desember 1977 untuk menara A dan awal 1998 untuk menara B &
C. Sedangkan Apartemen Kelapa Gading direncanakan selesai pada
Agustus 1998.
Dalam mengelola apartemen setelah dihuni, menurut Lai,
perusahaannya telah banyak belajar dari pengembang lain. "Kami
juga memiliki ahli-ahli yang akan mengelola apartemen ini selama
tahun pertama. Untuk selanjutnya akan diserahkan kepada penghuni
setelah mereka mampu mandiri," papar Ng Kui Lai.
Apartemen Gading Timur dan Wisma Gading Permai telah memiliki
ijin-ijin yang diperlukan dari Pemda setempat. Untuk tahap awal ini
Apartemen Gading Timur telah mengantongi ijin Blok Plan
No.2305/GSB/JU/III/96 pada 12 Juli 1996. Ijin pendahuluannya
01458/PIMB/PB/U/1996 tertanggal 13 Agustus 1996.
Sedangkan sertifikat HGB No.6128, berlaku sampai 27 Maret 2015.
Sementara apartemen Wisma Gading Timur telah mengantongi IMB
No.68/IP-STR/96 pada 3 September 1996. Untuk blok plannya
bernomor 1541/GSB/JU/X/94.
"Komitmen kami bukan cuma dalam membangun tepat waktu, tapi
juga menjamin keamanan penghuninya melalui kelengkapan
perijinan," ujar Thomas.
Mengurangi lalu-lintas
Pakar arsitektur Suwondo Bismo Soetedjo berpendapat bangunan
apartemen kantor pada umumnya bertujuan untuk mengurangi
beban transportasi ulang-alik dari hunian ke tempat kerja.
Menanggapi apartemen kantor Gading Timur, Suwondo menanyakan
terlebih dahulu apa tujuan kehadiran bangunan tersebut. "Kalau
memang tujuan pengadaannya untuk mengurangi lalu lintas, ya
memang baik," ujar mantan ketua Tim Penasehat Arsitektur Kota
(TPAK) DKI itu.
Guru besar arsitektur FTUI ini membenarkan di Singapura memang
banyak dibangun apartemen kantor. Biasanya pertokoan, dept. store
dan pasar swalayan berada di lantai-lantai bawah. Di atas itu
terdapat tempat parkir/garasi beberapa lantai.
Kantor dan apartemen menempati lantai-lantai atas. Lalu di puncak
bangunan terdapat restoran dan fasilitas hiburan seperti night club.
Dengan demikian, kata Suwondo, semua kebutuhan karyawan
perkantoran yang juga penghuni apartemen terpenuhi dalam satu
bangunan multifungsi, tanpa harus membebani lalu lintas di jalan
raya.
Rahmi Siti Fatimah & Lahyanto Nadie
Jumat, 17 Juli 2009
Tampil Bergaya di Kemang
RESTORAN-KAFE
Salah satu sudut Kemang. Di belakang McDonald's adalah
Champions. Kawasan ini kini berkembang menjadi kawasan dengan
restoran dan kafe penuh gaya.
SEBUAH wilayah di bilangan Jakarta Selatan yang tadinya tergolong
sepi, jalanannya agak sempit, terkenal terutama sebagai
permukiman orang asing, Kemang, seperti mendadak saja dalam
dua tahun terakhir ini menjadi wilayah "terang benderang". Artinya
"terang benderang" bukan sekadar kawasan itu menjadi arena
nongkrong "kaum gedongan" dengan kafe-kafe dan restorannya
yang eksklusif, melainkan kafe-kafe tersebut juga menggantikan
tempat sejenis di era sebelumnya yang biasanya berbau remang-
remang.
Ini mungkin memang bisa disebut era baru. Kebutuhan duniawi yang
beriringan dengan kemakmuran segolongan masyarakat telah
mencapai tahap berikut, yakni tahap stilisasi - penghalusan. Kelab-
kelab malam atau tempat bersantai remang-remang yang pernah
sangat marak di tahun 70-an bukan berarti tidak laku. Sepanjang Jl
Gajah Mada dan Hayam Wuruk ataupun Mangga Besar (disingkat
"mabes" oleh para pelanggannya) di Jakarta Kota tetap bergairah
dengan segala tempat hiburan seperti diskotek, tempat pijat, mandi
sauna, dan lain-lain. Seputar Blok M Jakarta Selatan marak dengan
berbagai kafe, restoran Jepang, Korea, dan kini beberapa klub
musik.
Kemang, di lain pihak, yang tadinya sepi kini seperti wanita yang
merias diri dalam penampilan paling elegan. Kalau malam hari Anda
melewati daerah itu terlebih di akhir pekan, mobil-mobil mewah
berjajar sepanjang jalan. Pola hiburan yang ditawarkan di sini
dengan berbagai restoran dan kafenya adalah pola yang
menghadirkan para tamu "sebagai aktor-aktris" dengan segala latar
belakang sosial mereka yang penuh gengsi. Kemang adalah setting
sosial: kafe-kafe eksklusif dan manusia-manusia indah.
***
DALAM hitungan Kompas, tak kurang dari 30 kafe-restoran di Jl.
Kemang (eks Bangka Raya) berikut tikungan-tikungannya seperti
Kemang Selatan dan Kemang Timur. Jumlah itu merupakan
loncatan tajam, kalau mengingat sampai sekitar akhir 80-an yang
menonjol di Kemang hanyalah Bob Shashlik (di atas supermarket
Kem Chick), Mama's Kitchen (kini menjadi Restoran Mama's) di
dekat Kem Chick, serta Amigos.
Sekarang, kalau diperhatikan, di satu blok saja yakni di sekitar
supermarket Kem Chick, selain Bob Shashlik dan Cafe de France di
situ berikut Restoran Mama, ada Granita, Espresso, Warung Si Doel,
dan sebuah restoran penyaji masakan India-Italia. Beberapa ratus
meter kemudian, bisa dijumpai Champions bersebelahan dengan
McDonald's. Tak jauh dari situ ada Pasir Putih dan akan segera
dibuka, Nevada.
Untuk pembaca di luar Jakarta, perlu diberitahukan letak kawasan itu
dibelah jalan Kemang bersambung dengan Ampera, membujur arah
utara-selatan. Di sebelah agak utara di satu kawasan ada Coterie,
Ratu Bahari, Chi Chi's Restaurant, Indiana, Galeri TC (singkatan
Twilite Cafe). Terus ke selatan bisa dijumpai Jimbani, Cafe de Paris,
Padzzi, Bawa Karaeng, Meksiko Restaurant, Jewel of India, Kemang
31. Pada jalanan yang agak masuk ada Amigos (di mana di
dekatnya ada Pizza HUT dan Dairy Queen) serta Padusi. Lebih
komplet lagi, di situ juga ada restoran take away (artinya beli dan
bawa pulang) yang menjual fish and chips (ikan dan kentang
goreng).
"Banyaknya restoran dan kafe di sini lebih menguntungkan. Sini
malah menjadi destination area," kata Tara dari Galeri TC yang
restorannya masih berumur beberapa bulan. Agaknya mereka
umumnya tidak terlalu cemas dengan kompetisi yang kemudian pasti
menjadi ketat. "Ada sih pengaruhnya, tetapi kami punya kiat sendiri-
sendiri untuk menjaring pengunjung," ujar M. Dayan dari Pasir Putih.
Fina Djohan, Direktur Utama Champions, tampaknya juga begitu
yakin bahwa mereka punya kekhasan sendiri-sendiri.
PADA tingkat mencari daya tarik masing-masing, lihatlah misalnya
Champions. Restoran yang merupakan resto waralaba (franchise)
dari sebuah restoran di Amerika ini menyebut diri sebagai "sports bar
and restaurant". Sebagai dekorasi restoran, mereka menyajikan
suasana olahraga dengan menampilkan memorabilia para
olahragawan dunia berikut layar-layar monitor lebar yang
menayangkan secara langsung siaran-siaran olahraga di berbagai
penjuru dunia, terutama Amerika. Fina yang pernah menjadi
pengurus Pelita Jaya mengaku, investasi restorannya sekitar Rp 4
milyar. Dari jumlah itu, sekitar Rp 500 juta untuk urusan dekorasi
termasuk memorabilia itu. Jadi, penampilan memang penting.
Jimbani, salah satu tempat yang paling riuh, menghadirkan suasana
Bali. Ukiran, perabot, patung, sampai pelayan yang menggunakan
kain kotak-kotak dan ikat kepala, semua bernuansa Bali. Terutama
akhir pekan, parkir mobil sepanjang jalan seputar situ menyemut
sampai ratusan meter.
Galeri TC, sejak semula katanya digagas sebagai tempat untuk para
pencinta seni. Kalau di tempat lain menghadirkan musik hingar-
bingar, TC menghasilkan konser musik klasik. Di dalam restoran itu
antara lain ada toko buku yang menjual buku, kartu, karya-karya
grafis, berikut pameran lukisan. Pelukis yang pernah berpameran di
situ adalah Adi Munardi, dengan corak lukisannya yang penuh gaya.
Kalau pameran lukisan umumnya dibuka pukul 20.00 malam dan
acara berakhir pukul 21.30, pada pembukaan pameran Adi tamu
pulang pukul 03.00 dinihari.
Pasir Putih menghadirkan suasana kelautan. "Kalau pasir putih
biasanya di pantai, kami perlihatkan bahwa pasir putih bisa di darat,"
kata Dayan mengenai restoran yang mengkhususkan makanan pada
sea food ini.
***
ADU sofistikasi penampilan memang menjadi ciri khas restoran-
restoran itu. Ini mungkin beriringan dengan majunya seni interior.
Kemakmuran yang ada telah memungkinkan direalisasikannya
gagasan-gagasan tentang interior yang sesuai dengan cita rasa yang
punya uang. Restoran Meksiko menghadirkan suasana modern
dengan warna-warna mencolok. Ini berbeda dengan misalnya
Jimbani, yang justru mengejar suasana eksotisme Timur, dalam hal
ini Bali.
Betapapun, ada persamaan-persamaan umum dari kafe-kafe itu.
Selain sofistifikasi dari gaya hidup yang ingin tampil "halus dan
elegan" tadi, mereka umumnya menghadirkan musik hidup (live
music). Suasana biasanya tidak remang-remang, melainkan dibuat
agak terang, sehingga orang bisa menyadari kehadiran orang lain
secara lebih jelas.
Mungkin ini berhubungan dengan kebutuhan pengunjung pada era
kemakmuran sekarang, antara lain kebutuhan untuk "melihat dan
dilihat". Mereka ini adalah para eksekutif di kota besar serta para
remaja yang orangtuanya berpunya. Dari percakapan dengan
beberapa kafe, pada umumnya mereka mengkalkulasi, pengeluaran
pengunjung di situ kalau dirata-rata sedikitnya Rp 40.000 per kepala.
Sofistikasi selera. Era remang-remang mulai berlalu, dan Kemang
yang menjadi tujuan baru itu seperti cermin dari keadaan yang lebih
luas, yakni eksposisi kemakmuran dan pergeseran pandangan:
bahwa kaya itu perlu dan tak perlu ditutup-tutupi. Di Kemang, mereka
bisa tampil penuh gaya.
(bre redana)
sumber:kompas
Salah satu sudut Kemang. Di belakang McDonald's adalah
Champions. Kawasan ini kini berkembang menjadi kawasan dengan
restoran dan kafe penuh gaya.
SEBUAH wilayah di bilangan Jakarta Selatan yang tadinya tergolong
sepi, jalanannya agak sempit, terkenal terutama sebagai
permukiman orang asing, Kemang, seperti mendadak saja dalam
dua tahun terakhir ini menjadi wilayah "terang benderang". Artinya
"terang benderang" bukan sekadar kawasan itu menjadi arena
nongkrong "kaum gedongan" dengan kafe-kafe dan restorannya
yang eksklusif, melainkan kafe-kafe tersebut juga menggantikan
tempat sejenis di era sebelumnya yang biasanya berbau remang-
remang.
Ini mungkin memang bisa disebut era baru. Kebutuhan duniawi yang
beriringan dengan kemakmuran segolongan masyarakat telah
mencapai tahap berikut, yakni tahap stilisasi - penghalusan. Kelab-
kelab malam atau tempat bersantai remang-remang yang pernah
sangat marak di tahun 70-an bukan berarti tidak laku. Sepanjang Jl
Gajah Mada dan Hayam Wuruk ataupun Mangga Besar (disingkat
"mabes" oleh para pelanggannya) di Jakarta Kota tetap bergairah
dengan segala tempat hiburan seperti diskotek, tempat pijat, mandi
sauna, dan lain-lain. Seputar Blok M Jakarta Selatan marak dengan
berbagai kafe, restoran Jepang, Korea, dan kini beberapa klub
musik.
Kemang, di lain pihak, yang tadinya sepi kini seperti wanita yang
merias diri dalam penampilan paling elegan. Kalau malam hari Anda
melewati daerah itu terlebih di akhir pekan, mobil-mobil mewah
berjajar sepanjang jalan. Pola hiburan yang ditawarkan di sini
dengan berbagai restoran dan kafenya adalah pola yang
menghadirkan para tamu "sebagai aktor-aktris" dengan segala latar
belakang sosial mereka yang penuh gengsi. Kemang adalah setting
sosial: kafe-kafe eksklusif dan manusia-manusia indah.
***
DALAM hitungan Kompas, tak kurang dari 30 kafe-restoran di Jl.
Kemang (eks Bangka Raya) berikut tikungan-tikungannya seperti
Kemang Selatan dan Kemang Timur. Jumlah itu merupakan
loncatan tajam, kalau mengingat sampai sekitar akhir 80-an yang
menonjol di Kemang hanyalah Bob Shashlik (di atas supermarket
Kem Chick), Mama's Kitchen (kini menjadi Restoran Mama's) di
dekat Kem Chick, serta Amigos.
Sekarang, kalau diperhatikan, di satu blok saja yakni di sekitar
supermarket Kem Chick, selain Bob Shashlik dan Cafe de France di
situ berikut Restoran Mama, ada Granita, Espresso, Warung Si Doel,
dan sebuah restoran penyaji masakan India-Italia. Beberapa ratus
meter kemudian, bisa dijumpai Champions bersebelahan dengan
McDonald's. Tak jauh dari situ ada Pasir Putih dan akan segera
dibuka, Nevada.
Untuk pembaca di luar Jakarta, perlu diberitahukan letak kawasan itu
dibelah jalan Kemang bersambung dengan Ampera, membujur arah
utara-selatan. Di sebelah agak utara di satu kawasan ada Coterie,
Ratu Bahari, Chi Chi's Restaurant, Indiana, Galeri TC (singkatan
Twilite Cafe). Terus ke selatan bisa dijumpai Jimbani, Cafe de Paris,
Padzzi, Bawa Karaeng, Meksiko Restaurant, Jewel of India, Kemang
31. Pada jalanan yang agak masuk ada Amigos (di mana di
dekatnya ada Pizza HUT dan Dairy Queen) serta Padusi. Lebih
komplet lagi, di situ juga ada restoran take away (artinya beli dan
bawa pulang) yang menjual fish and chips (ikan dan kentang
goreng).
"Banyaknya restoran dan kafe di sini lebih menguntungkan. Sini
malah menjadi destination area," kata Tara dari Galeri TC yang
restorannya masih berumur beberapa bulan. Agaknya mereka
umumnya tidak terlalu cemas dengan kompetisi yang kemudian pasti
menjadi ketat. "Ada sih pengaruhnya, tetapi kami punya kiat sendiri-
sendiri untuk menjaring pengunjung," ujar M. Dayan dari Pasir Putih.
Fina Djohan, Direktur Utama Champions, tampaknya juga begitu
yakin bahwa mereka punya kekhasan sendiri-sendiri.
PADA tingkat mencari daya tarik masing-masing, lihatlah misalnya
Champions. Restoran yang merupakan resto waralaba (franchise)
dari sebuah restoran di Amerika ini menyebut diri sebagai "sports bar
and restaurant". Sebagai dekorasi restoran, mereka menyajikan
suasana olahraga dengan menampilkan memorabilia para
olahragawan dunia berikut layar-layar monitor lebar yang
menayangkan secara langsung siaran-siaran olahraga di berbagai
penjuru dunia, terutama Amerika. Fina yang pernah menjadi
pengurus Pelita Jaya mengaku, investasi restorannya sekitar Rp 4
milyar. Dari jumlah itu, sekitar Rp 500 juta untuk urusan dekorasi
termasuk memorabilia itu. Jadi, penampilan memang penting.
Jimbani, salah satu tempat yang paling riuh, menghadirkan suasana
Bali. Ukiran, perabot, patung, sampai pelayan yang menggunakan
kain kotak-kotak dan ikat kepala, semua bernuansa Bali. Terutama
akhir pekan, parkir mobil sepanjang jalan seputar situ menyemut
sampai ratusan meter.
Galeri TC, sejak semula katanya digagas sebagai tempat untuk para
pencinta seni. Kalau di tempat lain menghadirkan musik hingar-
bingar, TC menghasilkan konser musik klasik. Di dalam restoran itu
antara lain ada toko buku yang menjual buku, kartu, karya-karya
grafis, berikut pameran lukisan. Pelukis yang pernah berpameran di
situ adalah Adi Munardi, dengan corak lukisannya yang penuh gaya.
Kalau pameran lukisan umumnya dibuka pukul 20.00 malam dan
acara berakhir pukul 21.30, pada pembukaan pameran Adi tamu
pulang pukul 03.00 dinihari.
Pasir Putih menghadirkan suasana kelautan. "Kalau pasir putih
biasanya di pantai, kami perlihatkan bahwa pasir putih bisa di darat,"
kata Dayan mengenai restoran yang mengkhususkan makanan pada
sea food ini.
***
ADU sofistikasi penampilan memang menjadi ciri khas restoran-
restoran itu. Ini mungkin beriringan dengan majunya seni interior.
Kemakmuran yang ada telah memungkinkan direalisasikannya
gagasan-gagasan tentang interior yang sesuai dengan cita rasa yang
punya uang. Restoran Meksiko menghadirkan suasana modern
dengan warna-warna mencolok. Ini berbeda dengan misalnya
Jimbani, yang justru mengejar suasana eksotisme Timur, dalam hal
ini Bali.
Betapapun, ada persamaan-persamaan umum dari kafe-kafe itu.
Selain sofistifikasi dari gaya hidup yang ingin tampil "halus dan
elegan" tadi, mereka umumnya menghadirkan musik hidup (live
music). Suasana biasanya tidak remang-remang, melainkan dibuat
agak terang, sehingga orang bisa menyadari kehadiran orang lain
secara lebih jelas.
Mungkin ini berhubungan dengan kebutuhan pengunjung pada era
kemakmuran sekarang, antara lain kebutuhan untuk "melihat dan
dilihat". Mereka ini adalah para eksekutif di kota besar serta para
remaja yang orangtuanya berpunya. Dari percakapan dengan
beberapa kafe, pada umumnya mereka mengkalkulasi, pengeluaran
pengunjung di situ kalau dirata-rata sedikitnya Rp 40.000 per kepala.
Sofistikasi selera. Era remang-remang mulai berlalu, dan Kemang
yang menjadi tujuan baru itu seperti cermin dari keadaan yang lebih
luas, yakni eksposisi kemakmuran dan pergeseran pandangan:
bahwa kaya itu perlu dan tak perlu ditutup-tutupi. Di Kemang, mereka
bisa tampil penuh gaya.
(bre redana)
sumber:kompas
Museum-museum Kesepian
Gedung Museum Nasional siang itu terasa begitu lengang di antara
keriuhan lalu lintas Jl. Merdeka Barat, Jakarta. Sepi dan terkesan
angker.
Gedung berarsitektur gaya masa penjajahan Belanda itu seolah
terasing dari hiruk pikuk kegiatan perkantoran di kiri kanannya.
Kelengangan kian terasa jika dibandingkan dengan keramaian
pengunjung Tugu Monas yang tak jauh di depannya.
Satu-satunya yang memberi petunjuk adanya kegiatan di Museum
Nasional itu adalah sebuah bus wisata yang terparkir di tengah
halaman. Sebuah bus yang mengangkut wisatawan asal Jepang.
Kelengangan ternyata bukan hanya monopoli Museum Masional.
Kesan angker dan terasing itu seolah telah menjadi trade mark
museum-museum di Jakarta seperti Museum Fatahilah, Museum
Bahari, Museum Tekstil, atau Museum Prasasti. Bahkan Museum
Nasional bisa dibilang paling beruntung di antara lainnya, karena
tergolong terawat cukup baik. Di museum lain bukan hanya
kelengangan yang tersirat tapi sekaligus kekumuhan dan kekotoran.
Kelengangan maupun kekumuhan museum-museum di Jakarta
menunjukkan betapa tak perhatiannya masyarakat Ibukota terhadap
jejak-jejak sejarah bangsanya. Ironisnya, justru orang-orang asing
yang terlihat peduli terhadap kekayaan budaya Bangsa Bahari ini.
Salah satu buktinya adalah bus wisatawan Jepang yang terparkir di
halaman Museum Nasional sebagaimana disebut di atas.
"Memang antusiasme orang asing berkunjung ke museum Gajah ini
cukup besar. Setiap harinya, bisa dipastikan puluhan hingga ratusan
wisatawan asing baik dari Eropa, Amerika, dan Asia, selalu datang
kemari," kata Drs. Subianto, kepala bidang bimbingan Museum
Nasional yang juga lazim disebut Museum Gajah ini.
Jadi tak perlu heran jika memasuki Museum Gajah, seolah sedang
berada di negeri lain. Bisa jadi Anda justru akan menjadi satu-
satunya orang berkulit sawo matang berbahasa Indonesia di antara
puluhan hingga ratusan pengunjung yang berambut pirang atau
berkulit kuning dengan mata sipit.
Perasaan asing itu barangkali yang dirasakan dua bersaudara, gadis
cilik dan kakaknya, yang asal Dumai, Riau, siang itu. Keduanya
sempat bengong ketika mendapati seluruh isi ruangan adalah bule-
bule dan orang-orang berkulit kuning yang tak mereka mengerti
bahasanya. Untungnya si gadis cilik Carolina segera menyeret
kakaknya untuk melihat-lihat isi museum yang dibangun pemerintah
Belanda tahun 1862 itu.
"Lina (Carolina) datang ke sini untuk membuktikan pelajaran sejarah
yang didapat dari sekolah. Ternyata cocok semua. Di sini Lina juga
bisa lihat berbagai macam patung, perhiasan emas dan berlian,
senjata, rumah adat, perahu dan banyak lagi lainnya. Lina tahun
depan akan ke sini lagi," kata Lina agak malu-malu yang segera
menggamit lengan kakaknya berlalu.
Situasi tak jauh beda juga terjadi di Museum Tekstil. Di sini pribumi
yang datang berkunjung justru akan menjadi orang asing di rumah
sendiri. "Terus-terang pengunjung yang datang kemari kebanyakan
orang asing. Biasanya, selain rekreasi mereka datang ke sini untuk
melakukan penelitian," kata kepala Museum Tekstil, Dra. Puspitasari
Wibisono, yang membenarkan bahwa minat warga Ibukota untuk
mengunjungi museumnya sangat memprihatinkan. "Apalagi koleksi
museum ini belum begitu dikenal dan jarang peminat." Puspitasari
pun melihat adanya dampak buruk dari kondisi itu. Ini, kata dia,
ditandai dengan sangat sedikitnya buku karya orang Indonesia yang
menelaah masalah tekstil Bangsa Bahari ini.
"Buku-buku yang ada tentang tekstil di Indonesia sebagaian besar
hasil karya orang asing," kata Puspita. "Lebih celaka lagi, saat ini
banyak koleksi yang seharusnya bisa dipajang di museum Indonesia,
ternyata malah ada di museum luar negeri. Dan kesulitan itu
semakin bertambah rumit, sebab untuk membeli koleksi tersebut
atau yang serupa, sudah sangat mahal harganya." Berbagai dampak
buruk akibat rendahnya animo masyarakat mengunjungi museum
juga diprihatinkan Muhammad Isha, pemandu wisata Museum
Nasional. Menurutnya, masyarakat Jakarta, sekarang ini lebih tertarik
datang ke pusat-pusat perbelanjaan, gedung bioskop, atau tempat
rekreasi, ketimbang ke museum.
"Padahal berkunjung ke museum sangat bermanfaat untuk
memperluas pengetahuan. Di sinilah kita bisa bercermin tentang
masa lalu kita. Di sana banyak tersimpan cerita tentang kebesaran
sekaligus kenaifan masa silam," kata Muhammad.
Rendahnya animo kunjung museum juga memunculkan keprihatinan
kalangan pendidik yang bersama murid-muridnya selama ini
mendominasi pengunjung museum. Sumadi, kepala sekolah SMA
Swasta di Salemba, yang suka menggiring anak didiknya datang ke
museum-museum Jakarta ini mengatakan bahwa rendahnya minat
kunjung masyarakat ke museum disebabkan oleh kurangnya
informasi.
Pada dasarnya, kata dia, minat masyarakat datang ke museum
belum mengkhawatirkan yang terlihat dari antusiasme anak didiknya
setiap kali dia bawa ke museum. Namun karena pemahaman
masyarakat yang terbatas akibat terputusnya informasi kegiatan
museum menjadikan mereka tak pernah memasukkan museum ke
dalam salah satu agenda wisata atau hiburan keluarga.
Untuk itu, kata Sumadi, pihak pengelola museum harus lebih aktif
dalam mempromosikan "dagangannya" misalnya mengatur ruang
dengan penataan lebih menarik, membuat pameran, lomba, seminar,
dan lain sebagainya. Selain itu, menurut dia, museum pun perlu
dilengkapi sarana bermain, parkir, serta restoran yang memadai dan
tertata rapi untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
"Dengan begitu anggapan masyarakat bahwa pergi ke museum
adalah melihat barang rongsokan dan buang-buang waktu akan
hilang dengan sendirinya," kata Sumadi.
Ucapan Sumadi bisa dibilang tak salah. Di Museum Nasional saja,
akibat keterbatasan ruang, kini terasa sesak dengan 109.342
koleksinya. Belum lagi masalah tempat parkir yang tak cukup luas.
Kondisi Museum Nasional itu jelas sangat bertolak belakang dengan
museum "kontemporer" macam Taman Mini Indonesia Indah dan
Monas yang tak pernah sepi pengunjung. Walaupun tak bisa
dipungkiri pengunjung di kedua museum ini lebih karena untuk
mencari hiburan dan rekreasi, sebagaimana dikatakan Tedjo Susilo,
Kepala Sub Direktorat Museum Umum.
"Taman Mini dan Monas memang masuk dalam kategori Museum.
Namun niatan masyarakat berkunjung ketempat tersebut tampaknya
melulu cari hiburan. Orang pergi ke Taman Mini umumnya karena
ingin menonton film di Keong Mas, atau jika pergi ke Monas hanya
karena ingin melihat Jakarta dari atas," kata Tedjo.
Tedjo justru melihat bahwa rendahnya animo masyarakat datang ke
museum konvensional karena belum merupakan budaya masyarakat
secara keseluruhan. "Melihat koleksi kekayaan budaya di museum,
bagi masyarakat kita belum merupakan kebutuhan primer. Ini sangat
berlainan dengan keadaan masyarakat di negara-negara yang telah
maju yang harus antri untuk masuk museum," kata Tedjo.
Namun, kata Tedjo, animo untuk datang ke museum sebetulnya tak
terlalu buruk jika mengacu pada jumlah pengunjung selama ini.
Menurut dia, pada periode tahun 1993-1994 saja jumlah pengunjung
untuk seluruh museum Jakarta tercatat sebanyak 1.445.601 orang.
Dari angka ini sebanyak 95.351 adalah orang asing, 4.580 peneliti,
dan sisanya sebanyak 763.800 orang adalah pengunjung domestik.
Selain itu, kata Tedjo, museum-museum yang ada saat ini
kondisinya sudah jauh lebih baik ketimbang sebelum ada Repelita.
"Waktu itu banyak gedung museum yang tidak terawat dengan baik.
Koleksinya penuh debu dan banyak yang dibiarkan rusak," kata
alumni UGM tahun 1971 ini.
Namun, jelas Tedjo, museum pernah mengenyam masa jaya yaitu
pada awal kemerdekaan hingga Museum Nasional pernah juga
mendapat sebutan Gedung Jodoh, karena banyak orang yang
mendapatkan jodohnya karena mengunjungi museum ini. Setelah
itu, berangsur-angsur pamor museum meredup hingga pada kondisi
terparah menjelang dekade 70-an.
Amburadulnya pengelolaan museum ketika itu, menurut Tedjo,
diperparah oleh berbagai aksi perampokan. Awal 70-an Museum
Nasional sempat dijarah kawanan perampok pimpinan gembong
penjahat, Kusni Kasdut --dihukum mati awal 80-an-- yang membawa
lari koleksi-koleksi terbuat dari emas dan batu mulia. Limabelas
tahun kemudian, perampokan serupa terulang. Kali ini giliran koleksi
keramik Tiongkok jadi sasaran perampokan.
"Memang tidak mengherankan museum sering dijadikan sasaran
kejahatan. Sebab di sini koleksinya banyak yang terbuat dari emas,
berlian, serta barang berharga lainnya," kata salah seorang petugas
keamanan yang enggan disebut namanya.
Meski kini kondisi museum jauh lebih baik, tapi Tedjo mengakui jika
masih belum mampu menandingi keramaian di masa jayanya. Dia
dan para pengelola museum pun sadar bahwa pembenahan
bagaimana pun tetap diperlukan untuk menarik pengunjung. Untuk
itu Museum Nasional dalam waktu dekat bakal berbenah untuk lebih
memberi nuansa sebagai tempat hiburan dan rekreasi. Menurut
Tedjo, Museum Nasional akan memperluas ruang pamerannya
selain juga melengkapi diri dengan fasilitas pendukung seperti arena
bermain, taman, dan gedung pertemuan.
Namun, kata Tedjo semua pembenahan itu tak ada artinya jika tak
didukung dana perawatan dan pegawai berkualitas yang selama ini
merupakan kendala umum museum-museum di Indonesia dan
Jakarta khususnya. Menurutnya, pemerintah semestinya sudah
harus memikirkan untuk membuka pendidikan khusus museum di
tingkat Universitas.
Namun, Tedjo tentu tak bermaksud, pembenahan tak perlu
dilakukan jika kendala klasik belum teratasi.
penulis:muhammad subarkah
keriuhan lalu lintas Jl. Merdeka Barat, Jakarta. Sepi dan terkesan
angker.
Gedung berarsitektur gaya masa penjajahan Belanda itu seolah
terasing dari hiruk pikuk kegiatan perkantoran di kiri kanannya.
Kelengangan kian terasa jika dibandingkan dengan keramaian
pengunjung Tugu Monas yang tak jauh di depannya.
Satu-satunya yang memberi petunjuk adanya kegiatan di Museum
Nasional itu adalah sebuah bus wisata yang terparkir di tengah
halaman. Sebuah bus yang mengangkut wisatawan asal Jepang.
Kelengangan ternyata bukan hanya monopoli Museum Masional.
Kesan angker dan terasing itu seolah telah menjadi trade mark
museum-museum di Jakarta seperti Museum Fatahilah, Museum
Bahari, Museum Tekstil, atau Museum Prasasti. Bahkan Museum
Nasional bisa dibilang paling beruntung di antara lainnya, karena
tergolong terawat cukup baik. Di museum lain bukan hanya
kelengangan yang tersirat tapi sekaligus kekumuhan dan kekotoran.
Kelengangan maupun kekumuhan museum-museum di Jakarta
menunjukkan betapa tak perhatiannya masyarakat Ibukota terhadap
jejak-jejak sejarah bangsanya. Ironisnya, justru orang-orang asing
yang terlihat peduli terhadap kekayaan budaya Bangsa Bahari ini.
Salah satu buktinya adalah bus wisatawan Jepang yang terparkir di
halaman Museum Nasional sebagaimana disebut di atas.
"Memang antusiasme orang asing berkunjung ke museum Gajah ini
cukup besar. Setiap harinya, bisa dipastikan puluhan hingga ratusan
wisatawan asing baik dari Eropa, Amerika, dan Asia, selalu datang
kemari," kata Drs. Subianto, kepala bidang bimbingan Museum
Nasional yang juga lazim disebut Museum Gajah ini.
Jadi tak perlu heran jika memasuki Museum Gajah, seolah sedang
berada di negeri lain. Bisa jadi Anda justru akan menjadi satu-
satunya orang berkulit sawo matang berbahasa Indonesia di antara
puluhan hingga ratusan pengunjung yang berambut pirang atau
berkulit kuning dengan mata sipit.
Perasaan asing itu barangkali yang dirasakan dua bersaudara, gadis
cilik dan kakaknya, yang asal Dumai, Riau, siang itu. Keduanya
sempat bengong ketika mendapati seluruh isi ruangan adalah bule-
bule dan orang-orang berkulit kuning yang tak mereka mengerti
bahasanya. Untungnya si gadis cilik Carolina segera menyeret
kakaknya untuk melihat-lihat isi museum yang dibangun pemerintah
Belanda tahun 1862 itu.
"Lina (Carolina) datang ke sini untuk membuktikan pelajaran sejarah
yang didapat dari sekolah. Ternyata cocok semua. Di sini Lina juga
bisa lihat berbagai macam patung, perhiasan emas dan berlian,
senjata, rumah adat, perahu dan banyak lagi lainnya. Lina tahun
depan akan ke sini lagi," kata Lina agak malu-malu yang segera
menggamit lengan kakaknya berlalu.
Situasi tak jauh beda juga terjadi di Museum Tekstil. Di sini pribumi
yang datang berkunjung justru akan menjadi orang asing di rumah
sendiri. "Terus-terang pengunjung yang datang kemari kebanyakan
orang asing. Biasanya, selain rekreasi mereka datang ke sini untuk
melakukan penelitian," kata kepala Museum Tekstil, Dra. Puspitasari
Wibisono, yang membenarkan bahwa minat warga Ibukota untuk
mengunjungi museumnya sangat memprihatinkan. "Apalagi koleksi
museum ini belum begitu dikenal dan jarang peminat." Puspitasari
pun melihat adanya dampak buruk dari kondisi itu. Ini, kata dia,
ditandai dengan sangat sedikitnya buku karya orang Indonesia yang
menelaah masalah tekstil Bangsa Bahari ini.
"Buku-buku yang ada tentang tekstil di Indonesia sebagaian besar
hasil karya orang asing," kata Puspita. "Lebih celaka lagi, saat ini
banyak koleksi yang seharusnya bisa dipajang di museum Indonesia,
ternyata malah ada di museum luar negeri. Dan kesulitan itu
semakin bertambah rumit, sebab untuk membeli koleksi tersebut
atau yang serupa, sudah sangat mahal harganya." Berbagai dampak
buruk akibat rendahnya animo masyarakat mengunjungi museum
juga diprihatinkan Muhammad Isha, pemandu wisata Museum
Nasional. Menurutnya, masyarakat Jakarta, sekarang ini lebih tertarik
datang ke pusat-pusat perbelanjaan, gedung bioskop, atau tempat
rekreasi, ketimbang ke museum.
"Padahal berkunjung ke museum sangat bermanfaat untuk
memperluas pengetahuan. Di sinilah kita bisa bercermin tentang
masa lalu kita. Di sana banyak tersimpan cerita tentang kebesaran
sekaligus kenaifan masa silam," kata Muhammad.
Rendahnya animo kunjung museum juga memunculkan keprihatinan
kalangan pendidik yang bersama murid-muridnya selama ini
mendominasi pengunjung museum. Sumadi, kepala sekolah SMA
Swasta di Salemba, yang suka menggiring anak didiknya datang ke
museum-museum Jakarta ini mengatakan bahwa rendahnya minat
kunjung masyarakat ke museum disebabkan oleh kurangnya
informasi.
Pada dasarnya, kata dia, minat masyarakat datang ke museum
belum mengkhawatirkan yang terlihat dari antusiasme anak didiknya
setiap kali dia bawa ke museum. Namun karena pemahaman
masyarakat yang terbatas akibat terputusnya informasi kegiatan
museum menjadikan mereka tak pernah memasukkan museum ke
dalam salah satu agenda wisata atau hiburan keluarga.
Untuk itu, kata Sumadi, pihak pengelola museum harus lebih aktif
dalam mempromosikan "dagangannya" misalnya mengatur ruang
dengan penataan lebih menarik, membuat pameran, lomba, seminar,
dan lain sebagainya. Selain itu, menurut dia, museum pun perlu
dilengkapi sarana bermain, parkir, serta restoran yang memadai dan
tertata rapi untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
"Dengan begitu anggapan masyarakat bahwa pergi ke museum
adalah melihat barang rongsokan dan buang-buang waktu akan
hilang dengan sendirinya," kata Sumadi.
Ucapan Sumadi bisa dibilang tak salah. Di Museum Nasional saja,
akibat keterbatasan ruang, kini terasa sesak dengan 109.342
koleksinya. Belum lagi masalah tempat parkir yang tak cukup luas.
Kondisi Museum Nasional itu jelas sangat bertolak belakang dengan
museum "kontemporer" macam Taman Mini Indonesia Indah dan
Monas yang tak pernah sepi pengunjung. Walaupun tak bisa
dipungkiri pengunjung di kedua museum ini lebih karena untuk
mencari hiburan dan rekreasi, sebagaimana dikatakan Tedjo Susilo,
Kepala Sub Direktorat Museum Umum.
"Taman Mini dan Monas memang masuk dalam kategori Museum.
Namun niatan masyarakat berkunjung ketempat tersebut tampaknya
melulu cari hiburan. Orang pergi ke Taman Mini umumnya karena
ingin menonton film di Keong Mas, atau jika pergi ke Monas hanya
karena ingin melihat Jakarta dari atas," kata Tedjo.
Tedjo justru melihat bahwa rendahnya animo masyarakat datang ke
museum konvensional karena belum merupakan budaya masyarakat
secara keseluruhan. "Melihat koleksi kekayaan budaya di museum,
bagi masyarakat kita belum merupakan kebutuhan primer. Ini sangat
berlainan dengan keadaan masyarakat di negara-negara yang telah
maju yang harus antri untuk masuk museum," kata Tedjo.
Namun, kata Tedjo, animo untuk datang ke museum sebetulnya tak
terlalu buruk jika mengacu pada jumlah pengunjung selama ini.
Menurut dia, pada periode tahun 1993-1994 saja jumlah pengunjung
untuk seluruh museum Jakarta tercatat sebanyak 1.445.601 orang.
Dari angka ini sebanyak 95.351 adalah orang asing, 4.580 peneliti,
dan sisanya sebanyak 763.800 orang adalah pengunjung domestik.
Selain itu, kata Tedjo, museum-museum yang ada saat ini
kondisinya sudah jauh lebih baik ketimbang sebelum ada Repelita.
"Waktu itu banyak gedung museum yang tidak terawat dengan baik.
Koleksinya penuh debu dan banyak yang dibiarkan rusak," kata
alumni UGM tahun 1971 ini.
Namun, jelas Tedjo, museum pernah mengenyam masa jaya yaitu
pada awal kemerdekaan hingga Museum Nasional pernah juga
mendapat sebutan Gedung Jodoh, karena banyak orang yang
mendapatkan jodohnya karena mengunjungi museum ini. Setelah
itu, berangsur-angsur pamor museum meredup hingga pada kondisi
terparah menjelang dekade 70-an.
Amburadulnya pengelolaan museum ketika itu, menurut Tedjo,
diperparah oleh berbagai aksi perampokan. Awal 70-an Museum
Nasional sempat dijarah kawanan perampok pimpinan gembong
penjahat, Kusni Kasdut --dihukum mati awal 80-an-- yang membawa
lari koleksi-koleksi terbuat dari emas dan batu mulia. Limabelas
tahun kemudian, perampokan serupa terulang. Kali ini giliran koleksi
keramik Tiongkok jadi sasaran perampokan.
"Memang tidak mengherankan museum sering dijadikan sasaran
kejahatan. Sebab di sini koleksinya banyak yang terbuat dari emas,
berlian, serta barang berharga lainnya," kata salah seorang petugas
keamanan yang enggan disebut namanya.
Meski kini kondisi museum jauh lebih baik, tapi Tedjo mengakui jika
masih belum mampu menandingi keramaian di masa jayanya. Dia
dan para pengelola museum pun sadar bahwa pembenahan
bagaimana pun tetap diperlukan untuk menarik pengunjung. Untuk
itu Museum Nasional dalam waktu dekat bakal berbenah untuk lebih
memberi nuansa sebagai tempat hiburan dan rekreasi. Menurut
Tedjo, Museum Nasional akan memperluas ruang pamerannya
selain juga melengkapi diri dengan fasilitas pendukung seperti arena
bermain, taman, dan gedung pertemuan.
Namun, kata Tedjo semua pembenahan itu tak ada artinya jika tak
didukung dana perawatan dan pegawai berkualitas yang selama ini
merupakan kendala umum museum-museum di Indonesia dan
Jakarta khususnya. Menurutnya, pemerintah semestinya sudah
harus memikirkan untuk membuka pendidikan khusus museum di
tingkat Universitas.
Namun, Tedjo tentu tak bermaksud, pembenahan tak perlu
dilakukan jika kendala klasik belum teratasi.
penulis:muhammad subarkah
Merenungi Arsitektur yang Tergusur
MASALAH nasionalisme di Indonesia muncul kembali sejalan dengan
menguatnya tekanan arus globalisasi multidimensi yang melanda semua
bagian bumi. Dari berbagai kasus skala nasional yang aktual, tercatat
"imbauan" agar mencintai produk ciptaan bangsa sendiri, sebagai salah satu
indikasi nasionalisme, kembali didengungkan dan terkesan diperkuat
gaungnya. Namun upaya-upaya ke arah itu justru berhadapan dengan
kecenderungan unik-alamiah-manusiawi masyarakat kita yang mungkin sulit
diubah.Dalam teori pola konsumsi, dikatakan masyarakat memiliki pola
konsumsi tertentu berbentuk siklus. Sebagai contoh, orang desa merasa
sangat bangga kalau membeli barang-barang modern (misal sepatu atau
pakaian) di kota, sedangkan orang kota bangga bila mampu membelinya di kota
yang lebih besar. Orang Jakarta, misalnya, senang berbelanja di luar negeri,
di Paris atau Singapura. Padahal bukan hal baru, sepatu kulit, tas kulit
atau pakaian wah berlabel made in luar negeri yang dibelinya sering justru
"hanya" bikinan Cibaduyut atau Desa Manding (sentra industri kerajinan
tradisional kulit di Bantul) Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebaliknya, orang
mancanegara mencari barang antik justru di desa-desa tradisional kita, bahkan
sampai di pelosok pulau-pulau terpencil di kawasan timur Indonesia. Pola
konsumsi seperti itu ternyata merembes jauh ke berbagai bidang kehidupan.
Contoh dalam bidang pendidikan misalnya, banyak iklan penawaran
pendidikan tinggi kita, agar terkesan bonafide mencantumkan backing dari
berbagai universitas luar negeri tertentu, termasuk menyebutkan pakarnya.
Dalam bidang arsitektur misalnya, kini sudah hampir biasa orang kota
mengkonsumsi material, peralatan atau asesories bangunannya buatan luar
negeri (Itali atau AS) betapa pun mahalnya. Di satu pihak harus diakui,
barang-barang semacam itu buatan luar negeri memang tinggi mutunya, namun
jelas menggambarkan betapa desainer dan produsen Indonesia selalu lemah dan
ketinggalan di belakang.Celakanya, pola konsumsi luar negeri minded bahkan
sudah merambah bidang jasa perencanaan dan perancangan arsitektur. Siapa
tidak kenal Wisma Dharmala di Jakarta dirancang oleh maestro arsitek kelas
dunia Paul Rudolf. Konon inspirasi desain diperoleh justru dari bangunan atap
bertumpuk (meru) yang lazim ada di desa-desa Pulau Bali. Bahkan karya
Rudolf itu dikagumi para arsitek Indonesia, disebut sebagai karya arsitektur
berjati diri Indonesia yang didambakan.Bandara Soekarno-Hatta kebanggaan
kita (tahun 1995 mendapat hadiah Aga Khan dari segi landscape dirancang
arsitek Perancis Paul Andreu, inspirasinya dikembangkan dari konsep
arsitektur tradisional Jawa. Konsepnya, sebagai pintu gerbang antarnegara,
Bandara Soekarno Hatta harus mencerminkan nilai-nilai budaya dan keunikan
alam tropis khas Indonesia. Konsep sense of place khas Jawa atau Indonesia
(menurut Andreu), wujudnya taman-taman antarmassa bangunan, yang diyakini
menjadi daya tarik kuat Bandara Soekarno-Hatta sempat mengherankan para
arsitek Indonesia dalam diskusi - presentasi Aga Khan di Yogyakarta
(November 1995). Taman-taman terbuka di bandara itu, sebenarnya adalah
gaya populer taman di rumah-rumah mewah kota-kota kita masa kini. Belum
pernah ada "kesepakatan" tentang kekhasannya. Keunikannya memang jauh
berbeda dari Taman Jepang yang sarat dengan napas meditasi Zen.Menara
Jakarta, diangankan menjadi simbol keberhasilan pembangunan bangsa,
konon sejak masih dalam status embrional juga telah menjadi made in luar
negeri. Lebih tragis lagi, hampir 90 persen desain kota (kawasan) baru dan
bangunan-bangunan masa kini di Jabotabek ditangani arsitek-arsitek
mancanegara, padahal setiap tahun pendidikan tinggi dalam negeri
menghasilkan lebih dari seribu (1.000) orang arsitek. Masih banyak fakta
dapat diungkapkan dan memperkuat gambaran ketersingkiran arsitek Indonesia
di negeri sendiri.
TAMPAKNYA masih relevan mengaitkan nasionalisme dengan perilaku bangsa
kita mengembangkan arsitektur. Ataukah era arsitek-arsitek nasional, seperti
Soejoedi, Silaban, atau Mangunwijaya memang hanya layak diposisikan
sebagai era masa lalu dan akan menjadi kenangan sejarah? Jawabannya
tergantung pada sikap dan cara pandang kita terhadap masalah dan
konteksnya. Menurut Cynthia C Davidson (editor buku Architecture beyond
Architecture diterbitkan dalam rangka Aga Khan Awards 1995) arsitektur dalam
era globalisasi mesti dipandang dengan cara baru. Arsitektur dalam era masa
kini sulit dikategorikan menurut batas-batas daerah (region), agama (religi),
bangsa (ras), atau lainnya sebab barat dan timur sulit ditentukan; dunia
telah menjadi satu.Dalam era globalisasi, demikian lanjutnya, kaidah-kaidah
tradisional yang bertemu dengan unsur-unsur baru mengalami kompromisasi.
Definisi place yang berubah, misalnya, mengharuskan perubahan pada definisi
arsitektur. Oleh karenanya paham regionalisme (Kenneth Frampton) perlu
dipikirkan kembali relevansinya masa kini. Dari pemikiran itu, kita dapat
belajar, arsitektur yang mementingkan sekat-isme (region, religi, atau ras)
lambat-laun akan kering dan ketinggalan zaman. Arsitektur masa kini bukanlah
arsitektur berlandaskan kategori atau asas sempit-parsial, melainkan
menjangkau dunia (mondial). Kejadian tingkat lokal, mau tidak mau dan suka
tidak suka, terkait dengan dinamika kehidupan tingkat dunia. Kecenderungan
munculnya pusat-pusat perbelanjaan mall (malisasi) di kompleks-kompleks
perumahan elit akhir-akhir ini, bukan sekadar akibat tekanan problematika
lokal, melainkan terkait dengan struktur-struktur sosial dan politik-ekonomi
skala dunia. Bahkan secara sangat tegas dikatakan Peter Eisenman (Critical
Architecture in Geopolitical World, dalam Architecture beyond Architecture,
Academy editions, 1995) kota-kota besar Seoul, Bangkok, Kuala Lumpur,
Jakarta, Singapore dan Shanghai merupakan wujud dari kolonisasi baru lewat
kekuatan ekonomi. Masalahnya, puaskah kita diposisikan sebagai "penonton
yang manis" pameran rekayasa arsitektur kelas dunia di kandang sendiri?
Pertanyaan itu pastilah mengusik semangat nasionalisme, sebab situasi
demikian berarti bentuk "penjajahan" baru dalam bidang arsitektur. Dengan
demikian, mau tidak mau, perlu direnungkan kembali semangat hidup dan
pilihan peran yang tepat bagi arsitektur kita, agar mati-matian menjadi
pelaku aktif di negeri sendiri. Meskipun sekat-sekat kategorial - sempit
makin memudar, namun tugas kompromisasi guna transformasi arsitektur yang
bermutu untuk masa kini dan masa depan tetap menjadi satu agenda penting.
Apalagi situasi globalisasi bagi Indonesia lebih berarti loncatan budaya
yang luar biasa. Artinya, sementara kita belum beranjak dari budaya
tradisional kesukuan, bahkan belum "menemukan" nasionalitas kita, kini sudah
berhadapan dengan kekuatan budaya baru yang jauh lebih canggih dan meniti
jalur evolusi yang berbeda sama sekali dari sebelumnya. Kita didorong
langsung masuk arus perubahan dan dipaksa siap berdialog dengan tingkat
kesiapan apa pun. Para arsitek di Indonesia perlu berubah dari pola pikir
konsumtif tradisional ke pola baru yang lebih terbuka, rasional, kompetitif
dan lebih canggih.Tekanan globalisasi tampaknya terlalu kuat hingga
membingungkan banyak pihak. Tentu para arsiteklah yang kompeten
menjawabnya, dan secara khusus pendidikan arsitektur di Indonesia
tertantang oleh situasi semacam itu.
DARI uraian di atas, tampak bahwa relevansi nasionalisme dengan arsitektur
makin penting. Namun karena situasi zaman berubah, diperlukan visi baru
untuk memandangnya. Artinya, diperlukan pemikiran kembali semangat dan
nilai nasionalisme dalam arsitektur, mengarah keterbukaan terhadap dinamika
kehidupan dunia. Suatu nasionalisme yang dibentuk lewat dialog langsung
sebagai pengalaman sejarah, bukan hasil sikap manja akibat proteksi. Sebab
nasionalisme sempit telah terbukti menjadi jebakan dan belenggu kemajuan
hidup manusia.Dunia pendidikan arsitektur Indonesia ditantang mampu
beradaptasi serta mengakomodasi perubahan dunia untuk menyiapkan lulusan
yang profesional, mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus
berskala dunia. Dengan kata lain dituntut mampu menyiapkan lulusannya
sebagai 100 persen arsitek nasional tulen sekaligus 100 persen arsitek dunia
sejati.Oleh karenanya, dalam perubahan kurikulum pendidikan arsitektur tahun
1995, kedua aspek tersebut di atas perlu dipertimbangkan secara mendalam
guna mencapai keunggulan nasional sumber daya manusia arsitek-arsitek
Indonesia. Masalahnya, mampukah kita dengan potensi dan instrumen-
instrumen pelaksanaan pendidikan arsitektur sekarang ini menyiapkan tenaga
berkualitas semacam itu? Padahal masih ada sebagian ahli berpandangan,
arsitektur itu hanya seni dan di Indonesia belum mencapai tingkat ilmu
pengetahuan (science). Dalam era persaingan bebas abad ke-21 suasana
kompetisi menjadi ciri menonjol; siapa kuat dialah yang dapat hidup terus.
Padahal masalah-masalah "intern" masih membelenggu dunia arsitektur kita,
misalnya: pendangkalan makna arsitektur, penghancuran bangunan-bangunan
kuno, dan pelecehan etika profesi. PR kita masih banyak. Kita memang perlu
bekerja lebih keras.
Ir Y Djarot Purbadi, pengajar jurusan arsitektur fakultas teknik
universitas Atma Jaya Yogyakarta.
menguatnya tekanan arus globalisasi multidimensi yang melanda semua
bagian bumi. Dari berbagai kasus skala nasional yang aktual, tercatat
"imbauan" agar mencintai produk ciptaan bangsa sendiri, sebagai salah satu
indikasi nasionalisme, kembali didengungkan dan terkesan diperkuat
gaungnya. Namun upaya-upaya ke arah itu justru berhadapan dengan
kecenderungan unik-alamiah-manusiawi masyarakat kita yang mungkin sulit
diubah.Dalam teori pola konsumsi, dikatakan masyarakat memiliki pola
konsumsi tertentu berbentuk siklus. Sebagai contoh, orang desa merasa
sangat bangga kalau membeli barang-barang modern (misal sepatu atau
pakaian) di kota, sedangkan orang kota bangga bila mampu membelinya di kota
yang lebih besar. Orang Jakarta, misalnya, senang berbelanja di luar negeri,
di Paris atau Singapura. Padahal bukan hal baru, sepatu kulit, tas kulit
atau pakaian wah berlabel made in luar negeri yang dibelinya sering justru
"hanya" bikinan Cibaduyut atau Desa Manding (sentra industri kerajinan
tradisional kulit di Bantul) Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebaliknya, orang
mancanegara mencari barang antik justru di desa-desa tradisional kita, bahkan
sampai di pelosok pulau-pulau terpencil di kawasan timur Indonesia. Pola
konsumsi seperti itu ternyata merembes jauh ke berbagai bidang kehidupan.
Contoh dalam bidang pendidikan misalnya, banyak iklan penawaran
pendidikan tinggi kita, agar terkesan bonafide mencantumkan backing dari
berbagai universitas luar negeri tertentu, termasuk menyebutkan pakarnya.
Dalam bidang arsitektur misalnya, kini sudah hampir biasa orang kota
mengkonsumsi material, peralatan atau asesories bangunannya buatan luar
negeri (Itali atau AS) betapa pun mahalnya. Di satu pihak harus diakui,
barang-barang semacam itu buatan luar negeri memang tinggi mutunya, namun
jelas menggambarkan betapa desainer dan produsen Indonesia selalu lemah dan
ketinggalan di belakang.Celakanya, pola konsumsi luar negeri minded bahkan
sudah merambah bidang jasa perencanaan dan perancangan arsitektur. Siapa
tidak kenal Wisma Dharmala di Jakarta dirancang oleh maestro arsitek kelas
dunia Paul Rudolf. Konon inspirasi desain diperoleh justru dari bangunan atap
bertumpuk (meru) yang lazim ada di desa-desa Pulau Bali. Bahkan karya
Rudolf itu dikagumi para arsitek Indonesia, disebut sebagai karya arsitektur
berjati diri Indonesia yang didambakan.Bandara Soekarno-Hatta kebanggaan
kita (tahun 1995 mendapat hadiah Aga Khan dari segi landscape dirancang
arsitek Perancis Paul Andreu, inspirasinya dikembangkan dari konsep
arsitektur tradisional Jawa. Konsepnya, sebagai pintu gerbang antarnegara,
Bandara Soekarno Hatta harus mencerminkan nilai-nilai budaya dan keunikan
alam tropis khas Indonesia. Konsep sense of place khas Jawa atau Indonesia
(menurut Andreu), wujudnya taman-taman antarmassa bangunan, yang diyakini
menjadi daya tarik kuat Bandara Soekarno-Hatta sempat mengherankan para
arsitek Indonesia dalam diskusi - presentasi Aga Khan di Yogyakarta
(November 1995). Taman-taman terbuka di bandara itu, sebenarnya adalah
gaya populer taman di rumah-rumah mewah kota-kota kita masa kini. Belum
pernah ada "kesepakatan" tentang kekhasannya. Keunikannya memang jauh
berbeda dari Taman Jepang yang sarat dengan napas meditasi Zen.Menara
Jakarta, diangankan menjadi simbol keberhasilan pembangunan bangsa,
konon sejak masih dalam status embrional juga telah menjadi made in luar
negeri. Lebih tragis lagi, hampir 90 persen desain kota (kawasan) baru dan
bangunan-bangunan masa kini di Jabotabek ditangani arsitek-arsitek
mancanegara, padahal setiap tahun pendidikan tinggi dalam negeri
menghasilkan lebih dari seribu (1.000) orang arsitek. Masih banyak fakta
dapat diungkapkan dan memperkuat gambaran ketersingkiran arsitek Indonesia
di negeri sendiri.
TAMPAKNYA masih relevan mengaitkan nasionalisme dengan perilaku bangsa
kita mengembangkan arsitektur. Ataukah era arsitek-arsitek nasional, seperti
Soejoedi, Silaban, atau Mangunwijaya memang hanya layak diposisikan
sebagai era masa lalu dan akan menjadi kenangan sejarah? Jawabannya
tergantung pada sikap dan cara pandang kita terhadap masalah dan
konteksnya. Menurut Cynthia C Davidson (editor buku Architecture beyond
Architecture diterbitkan dalam rangka Aga Khan Awards 1995) arsitektur dalam
era globalisasi mesti dipandang dengan cara baru. Arsitektur dalam era masa
kini sulit dikategorikan menurut batas-batas daerah (region), agama (religi),
bangsa (ras), atau lainnya sebab barat dan timur sulit ditentukan; dunia
telah menjadi satu.Dalam era globalisasi, demikian lanjutnya, kaidah-kaidah
tradisional yang bertemu dengan unsur-unsur baru mengalami kompromisasi.
Definisi place yang berubah, misalnya, mengharuskan perubahan pada definisi
arsitektur. Oleh karenanya paham regionalisme (Kenneth Frampton) perlu
dipikirkan kembali relevansinya masa kini. Dari pemikiran itu, kita dapat
belajar, arsitektur yang mementingkan sekat-isme (region, religi, atau ras)
lambat-laun akan kering dan ketinggalan zaman. Arsitektur masa kini bukanlah
arsitektur berlandaskan kategori atau asas sempit-parsial, melainkan
menjangkau dunia (mondial). Kejadian tingkat lokal, mau tidak mau dan suka
tidak suka, terkait dengan dinamika kehidupan tingkat dunia. Kecenderungan
munculnya pusat-pusat perbelanjaan mall (malisasi) di kompleks-kompleks
perumahan elit akhir-akhir ini, bukan sekadar akibat tekanan problematika
lokal, melainkan terkait dengan struktur-struktur sosial dan politik-ekonomi
skala dunia. Bahkan secara sangat tegas dikatakan Peter Eisenman (Critical
Architecture in Geopolitical World, dalam Architecture beyond Architecture,
Academy editions, 1995) kota-kota besar Seoul, Bangkok, Kuala Lumpur,
Jakarta, Singapore dan Shanghai merupakan wujud dari kolonisasi baru lewat
kekuatan ekonomi. Masalahnya, puaskah kita diposisikan sebagai "penonton
yang manis" pameran rekayasa arsitektur kelas dunia di kandang sendiri?
Pertanyaan itu pastilah mengusik semangat nasionalisme, sebab situasi
demikian berarti bentuk "penjajahan" baru dalam bidang arsitektur. Dengan
demikian, mau tidak mau, perlu direnungkan kembali semangat hidup dan
pilihan peran yang tepat bagi arsitektur kita, agar mati-matian menjadi
pelaku aktif di negeri sendiri. Meskipun sekat-sekat kategorial - sempit
makin memudar, namun tugas kompromisasi guna transformasi arsitektur yang
bermutu untuk masa kini dan masa depan tetap menjadi satu agenda penting.
Apalagi situasi globalisasi bagi Indonesia lebih berarti loncatan budaya
yang luar biasa. Artinya, sementara kita belum beranjak dari budaya
tradisional kesukuan, bahkan belum "menemukan" nasionalitas kita, kini sudah
berhadapan dengan kekuatan budaya baru yang jauh lebih canggih dan meniti
jalur evolusi yang berbeda sama sekali dari sebelumnya. Kita didorong
langsung masuk arus perubahan dan dipaksa siap berdialog dengan tingkat
kesiapan apa pun. Para arsitek di Indonesia perlu berubah dari pola pikir
konsumtif tradisional ke pola baru yang lebih terbuka, rasional, kompetitif
dan lebih canggih.Tekanan globalisasi tampaknya terlalu kuat hingga
membingungkan banyak pihak. Tentu para arsiteklah yang kompeten
menjawabnya, dan secara khusus pendidikan arsitektur di Indonesia
tertantang oleh situasi semacam itu.
DARI uraian di atas, tampak bahwa relevansi nasionalisme dengan arsitektur
makin penting. Namun karena situasi zaman berubah, diperlukan visi baru
untuk memandangnya. Artinya, diperlukan pemikiran kembali semangat dan
nilai nasionalisme dalam arsitektur, mengarah keterbukaan terhadap dinamika
kehidupan dunia. Suatu nasionalisme yang dibentuk lewat dialog langsung
sebagai pengalaman sejarah, bukan hasil sikap manja akibat proteksi. Sebab
nasionalisme sempit telah terbukti menjadi jebakan dan belenggu kemajuan
hidup manusia.Dunia pendidikan arsitektur Indonesia ditantang mampu
beradaptasi serta mengakomodasi perubahan dunia untuk menyiapkan lulusan
yang profesional, mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus
berskala dunia. Dengan kata lain dituntut mampu menyiapkan lulusannya
sebagai 100 persen arsitek nasional tulen sekaligus 100 persen arsitek dunia
sejati.Oleh karenanya, dalam perubahan kurikulum pendidikan arsitektur tahun
1995, kedua aspek tersebut di atas perlu dipertimbangkan secara mendalam
guna mencapai keunggulan nasional sumber daya manusia arsitek-arsitek
Indonesia. Masalahnya, mampukah kita dengan potensi dan instrumen-
instrumen pelaksanaan pendidikan arsitektur sekarang ini menyiapkan tenaga
berkualitas semacam itu? Padahal masih ada sebagian ahli berpandangan,
arsitektur itu hanya seni dan di Indonesia belum mencapai tingkat ilmu
pengetahuan (science). Dalam era persaingan bebas abad ke-21 suasana
kompetisi menjadi ciri menonjol; siapa kuat dialah yang dapat hidup terus.
Padahal masalah-masalah "intern" masih membelenggu dunia arsitektur kita,
misalnya: pendangkalan makna arsitektur, penghancuran bangunan-bangunan
kuno, dan pelecehan etika profesi. PR kita masih banyak. Kita memang perlu
bekerja lebih keras.
Ir Y Djarot Purbadi, pengajar jurusan arsitektur fakultas teknik
universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Kota yang Berjiwa, Jiwa Siapa ?
KONGRES ke-7 Arsitek Asia di Jakarta tahun 1996 dahalu, dengan tema
"Kota yang berjiwa", menyisakan pertanyaan: jiwa siapa? Bukankah
suatu kota sebenarnya merupakan multifaset, karena banyak
aspirasi di dalamnya, yakni aspirasi penguasa kota, pengembang,
pemodal besar, dan masyarakat dengan berbagai tingkat sosialnya.
Lalu siapakah yang berhak memberikan jiwa? Nenek moyang kita
percaya bahwa setiap tempat mempunyai jiwa. Jiwa dari suatu
tempat dapat diketemukan 'genius loci', semangat pelindung yang
kepribadiannya memberikan karakter khusus suatu lokasi.
Dalam dunia modern seperti saat ini, kepercayaan dasar dari
keterkaitan dengan sesuatu yang kuno masih tetap dikukuhi.
Tempat-tempat yang secara tradisional dihormati, memiliki jiwa yang
jauh lebih baik dibandingkan tempat-tempat lainnya.
Aura tempat seperti itu akan memberikan pengaruh kepada
pendatang yang kemudian bermukim di situ. Mereka akan
menemukan kualitas kehidupan yang lebih baik, karena tempat itu
begitu dicintai sepanjang keberadaannya, sehingga tempat itu pun
"menjaga" siapa pun yang bermukim di sana.
***
NAMUN kita tidak lagi hidup dalam kebudayaan yang mengakui jiwa
suatu tempat, khususnya di kawasan perkotaan. Bangunan-
bangunan modern dan pencakar langit sekonyong-konyong hadir
seperti diciptakan dalam semalam.
Tingginya mobilitas, kesibukan yang terpusat kepada kepentingan
pribadi, sikap hidup yang makin materialistik dan hedonistik, orientasi
hidup kepada hasil, bukan kepada proses, membuat banyak orang
semakin meninggalkan akar. Mereka menghalalkan semua cara
untuk mencapai tujuannya.
Modernitas pun kemudian terwujud hanya dalam bentuk fisik, bukan
pada esensi dan fungsi. Simplifikasi adalah segalanya. Dan
arsitektur banyak kota besar di Asia saat ini tampaknya seperti
mengulang kesalahan yang terjadi pada awal abad ke-20 di Eropa :
sekadar menjadi citra dan bentuk komoditi ekonomis.
Pada situasi seperti itu, seperti pernah dikemukakan arsitek dan ahli
perencana kota Ir. Andy Siswanto MArch, MA, misi reformasi sosial
dari arsitektur modernpun ditinggalkan. Pembangunan permukiman
untuk massa dikacaukan dengan perumahan massal, seperti banyak
dilakukan pengembang dalam ekonomi pasar. Metode desain yang
rasional dikacaukan dengan menampakkan bangunan secara
rasional.
Saat ini pun arsitektur sebagai obyek dipisahkan dari makna sosial
karena obyek dianggap a-historis. Subyek arsitektur dan desain kota
bukan lagi masyarakat, tapi para pemberi pekerjaan, yakni penguasa
dan para pemilik modal.
Modernisme sukses dalam menciptakan konstruksi utilitarian bagi
kelompok masyarakat tersebut. Tapi ia gagal karena logika sosial
dari teknologi tidaklah netral. Misi awal modernisme menjadi terasa
utopis karena terseret dalam arus kapitalisme perkotaan. Kegagalan
ini tentu saja tidak bisa dilimpahkan kepada arsitektur semata-mata,
tapi lebih -pada kenaifan bangunan logika asal yang mendasarinya.
***
DALAM situasi seperti ini, jiwa suatu tempat harus dicari sendiri
secara imajinatif oleh penghuninya.
Berikut beberapa cara untuk menangkap jiwa dan dapat menjadi
pedoman kehidupan di tempat di mana kita bermukim, seperti dikutip
dari Elizabeth Vander Schaaf dalam majalan Utne Reader edisi
September/ Oktober 1994.
* Berikan perhatian untuk membentuk kehidupan bermasyarakat
dengan interaksi yang tulus antar anggota masyarakat. Apa yang
dirasakan terhadap pusat-pusat masyarakat? Di mana batas-
batasnya? Di mana dataran tinggi? Di mana dataran paling rendah?
Di mana mendapatkan air? Masih ada, dan masih mengalirkah?
* Kenali kapan tetangga Anda merayakan hari-hari sucinya, datang
dan tunjukkan perhatian Anda.
* Carilah kehidupan seperti apa yang ada di antara ruang-ruang?
Siapa yang tinggal di lorong? Di mana Anda bisa melihat burung? Di
mana tempat yang memungkinkan Anda bisa keluar dari mobil dan
menikmati udara segar? Di mana anak-anak bisa sejenak
melepaskan diri dari pengawasan orang dewasa?
* Carilah di mana semangat kehidupan. Siapa yang hidup di tempat
itu sebelum Anda tiba? Apakah pernah terjadi tragedi di sekitarnya?
Adakah rumah hantu di sekitar tempat itu? Kehidupan seperti apa di
sekitar Anda antara tengah malam sampai pukul 06.00?
* Tentukan bagaimana jiwa tempat itu terasa ke segenap
lingkungannya. Apa yang tumbuh di dekat rumah kita? Pohon,
bunga, sayuran, rumput liar atau tak ada sesuatu pun yang tumbuh?
Adakah tempat yang dinamai oleh anak-anak? Apa yang membuat
lingkungan itu dengan lingkungan lainnya? Di mana Anda bisa
menyapa seseorang yang bukan anggota keluarga atau tetangga di
depan rumah? Adakah kebutuhan-kebutuhan dasar bisa didapatkan
di lingkungan tanpa Anda harus menggunakan mobil? (mh)
sumber: kompas
"Kota yang berjiwa", menyisakan pertanyaan: jiwa siapa? Bukankah
suatu kota sebenarnya merupakan multifaset, karena banyak
aspirasi di dalamnya, yakni aspirasi penguasa kota, pengembang,
pemodal besar, dan masyarakat dengan berbagai tingkat sosialnya.
Lalu siapakah yang berhak memberikan jiwa? Nenek moyang kita
percaya bahwa setiap tempat mempunyai jiwa. Jiwa dari suatu
tempat dapat diketemukan 'genius loci', semangat pelindung yang
kepribadiannya memberikan karakter khusus suatu lokasi.
Dalam dunia modern seperti saat ini, kepercayaan dasar dari
keterkaitan dengan sesuatu yang kuno masih tetap dikukuhi.
Tempat-tempat yang secara tradisional dihormati, memiliki jiwa yang
jauh lebih baik dibandingkan tempat-tempat lainnya.
Aura tempat seperti itu akan memberikan pengaruh kepada
pendatang yang kemudian bermukim di situ. Mereka akan
menemukan kualitas kehidupan yang lebih baik, karena tempat itu
begitu dicintai sepanjang keberadaannya, sehingga tempat itu pun
"menjaga" siapa pun yang bermukim di sana.
***
NAMUN kita tidak lagi hidup dalam kebudayaan yang mengakui jiwa
suatu tempat, khususnya di kawasan perkotaan. Bangunan-
bangunan modern dan pencakar langit sekonyong-konyong hadir
seperti diciptakan dalam semalam.
Tingginya mobilitas, kesibukan yang terpusat kepada kepentingan
pribadi, sikap hidup yang makin materialistik dan hedonistik, orientasi
hidup kepada hasil, bukan kepada proses, membuat banyak orang
semakin meninggalkan akar. Mereka menghalalkan semua cara
untuk mencapai tujuannya.
Modernitas pun kemudian terwujud hanya dalam bentuk fisik, bukan
pada esensi dan fungsi. Simplifikasi adalah segalanya. Dan
arsitektur banyak kota besar di Asia saat ini tampaknya seperti
mengulang kesalahan yang terjadi pada awal abad ke-20 di Eropa :
sekadar menjadi citra dan bentuk komoditi ekonomis.
Pada situasi seperti itu, seperti pernah dikemukakan arsitek dan ahli
perencana kota Ir. Andy Siswanto MArch, MA, misi reformasi sosial
dari arsitektur modernpun ditinggalkan. Pembangunan permukiman
untuk massa dikacaukan dengan perumahan massal, seperti banyak
dilakukan pengembang dalam ekonomi pasar. Metode desain yang
rasional dikacaukan dengan menampakkan bangunan secara
rasional.
Saat ini pun arsitektur sebagai obyek dipisahkan dari makna sosial
karena obyek dianggap a-historis. Subyek arsitektur dan desain kota
bukan lagi masyarakat, tapi para pemberi pekerjaan, yakni penguasa
dan para pemilik modal.
Modernisme sukses dalam menciptakan konstruksi utilitarian bagi
kelompok masyarakat tersebut. Tapi ia gagal karena logika sosial
dari teknologi tidaklah netral. Misi awal modernisme menjadi terasa
utopis karena terseret dalam arus kapitalisme perkotaan. Kegagalan
ini tentu saja tidak bisa dilimpahkan kepada arsitektur semata-mata,
tapi lebih -pada kenaifan bangunan logika asal yang mendasarinya.
***
DALAM situasi seperti ini, jiwa suatu tempat harus dicari sendiri
secara imajinatif oleh penghuninya.
Berikut beberapa cara untuk menangkap jiwa dan dapat menjadi
pedoman kehidupan di tempat di mana kita bermukim, seperti dikutip
dari Elizabeth Vander Schaaf dalam majalan Utne Reader edisi
September/ Oktober 1994.
* Berikan perhatian untuk membentuk kehidupan bermasyarakat
dengan interaksi yang tulus antar anggota masyarakat. Apa yang
dirasakan terhadap pusat-pusat masyarakat? Di mana batas-
batasnya? Di mana dataran tinggi? Di mana dataran paling rendah?
Di mana mendapatkan air? Masih ada, dan masih mengalirkah?
* Kenali kapan tetangga Anda merayakan hari-hari sucinya, datang
dan tunjukkan perhatian Anda.
* Carilah kehidupan seperti apa yang ada di antara ruang-ruang?
Siapa yang tinggal di lorong? Di mana Anda bisa melihat burung? Di
mana tempat yang memungkinkan Anda bisa keluar dari mobil dan
menikmati udara segar? Di mana anak-anak bisa sejenak
melepaskan diri dari pengawasan orang dewasa?
* Carilah di mana semangat kehidupan. Siapa yang hidup di tempat
itu sebelum Anda tiba? Apakah pernah terjadi tragedi di sekitarnya?
Adakah rumah hantu di sekitar tempat itu? Kehidupan seperti apa di
sekitar Anda antara tengah malam sampai pukul 06.00?
* Tentukan bagaimana jiwa tempat itu terasa ke segenap
lingkungannya. Apa yang tumbuh di dekat rumah kita? Pohon,
bunga, sayuran, rumput liar atau tak ada sesuatu pun yang tumbuh?
Adakah tempat yang dinamai oleh anak-anak? Apa yang membuat
lingkungan itu dengan lingkungan lainnya? Di mana Anda bisa
menyapa seseorang yang bukan anggota keluarga atau tetangga di
depan rumah? Adakah kebutuhan-kebutuhan dasar bisa didapatkan
di lingkungan tanpa Anda harus menggunakan mobil? (mh)
sumber: kompas
Gaya Arsitektur Indonesia
Arsitek kondang asal Prancis, Le Corbusier,
meramalkan suatu saat hanya ada satu arsitektur untuk semua
tempat.
Ramalan itu mungkin ada benarnya. Sekarang saja dapat dicermati,
berbagai bangunan tinggi di sepanjang jalan protokol kota
menyiratkan hal itu. Gedung-gedung berbentuk kotakkotak yang
mirip satu sama lain.
Keseragaman tersebut di mata arsitek asal Jepang Kisho Kurokawa
terjadi akibat perkembangan teknologi dalam era modernisasi yang
berawal dari revolusi industri.
Berlakunya era modernisasi memaksa manusia-terlebih pengusaha-
cenderung berbicara pada satu sudut pandang, efisiensi. Gedung
tinggi berbentuk kotak-kotak sederhana lah contohnya.
Pengusaha, demi efisiensi dan mendapatkan ruang sebanyak
mungkin, tidak perlu repot memikirkan hal-hal yang berhubungan
dengan penerapan budaya pada arsitektur.
Dalam benak pemilik modal atau pengembang properti, sudut
pandang efisiensi itu juga menjadi perhatian para calon pembeli atau
penyewa bangunan mereka. Singkatnya, efisiesi adalah tuntutan
pasar.
Simak saja pemikiran Ciputra, taipan properti Indonesia. "Kami
hanya mengikuti selera pasar. Karena pasar lebih menyukai
arsitektur bergaya barat, kami mengembangkan arsitektur barat,"
katanya.
Sebagai pengembang, tentu Ciputra wajar berpendapat demikian.
Berkaca dari pandangan sesepuh dunia properti Indonesia, mungkin
sulit mengharapkan arsitektur lokal dapat berbicara dalam konteks
perancangan bangunan.
Maka tidak mengherankan bila ada desain gedung tinggi di sini yang
menjiplak mentah-mentah bangunan di luar negeri.
Perumahan tidak jauh berbeda. Boleh dibilang hampir seluruh
permukiman yang ada menawarkan rumah bermodel asing seperti
mediteranian, kalifornian atau art deco.
Suara berbeda muncul dari Adhi Moersid, pakar arsitektur.
"Arsitektur lokal bisa sangat ekonomis. Tinggal bagaimana kita
memilih,...mana yang dapat diambil dari arsitektur lokal."
Pendapat Adhi tersebut menyiratkan bahwa arsitektur lokal-yang
berkaitan dengan budaya-masih dapat bermain dalam era modern
maupun pasar bebas.
Adhi tampaknya sejalan dengan Kisho. Menurut arsitek Jepang itu,
abad ke-21 akan ditandai dengan kemunculan age of life.
Pada zaman era mesin, gaya internasional menjadi prototip
arsitektur modern yang tercipta dari produk standar hasil industri.
Produk tersebut diterima oleh sektor bisnis yang memproduksi
properti dan masyarakat kelas menengah sebagai pengguna.
"Model, norma, dan ide abad mesin didukung oleh universalitas yang
diwakili oleh semangat peradaban barat," katanya.
Simbiosis merupakan kata kunci dari Age of life yang diramalkan
Kisho. Era itu akan memadukan beberapa hal a.l. keberagaman
budaya, kemajemukan nilai, sejarah dan kepentingan pada masa
mendatang.
Arsitektur kota
Indonesia sebagai negara berkembang memiliki kondisi yang tentu
saja berbeda dengan negara maju. Keunikan kondisi di Indonesia,
antara lain, adalah arus urbanisasi yang amat deras sehingga
menumbuhkan arsitektur kota yang khas.
Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moochtar mengambil contoh
ibukota Jakarta. "15 tahun mendatang Jakarta akan menerima
penambahan 5 juta penduduk," katanya.
Bisa dibayangkan, Singapura saja berpenduduk 2,8 juta, dengan 1,8
juta di antaranya berstatus warga negara. Jadi, Jakarta akan dibanjiri
para pendatang hampir dua kali jumlah penduduk Singapura.
Dengan penduduk yang jauh lebih sedikit itu, Singapura terpaksa
mengubah sejumlah bangunan bernilai historis di menjadi pusat
perbelanjaan dan perkantoran terutama yang berlokasi dekat pusat
kota.
Tidak berlebihan apabila Radinal memandang bahwa perlu ada
kesiapan dini untuk mengantisipasi ledakan jumlah penduduk akibat
urbanisasi.
"Jangan sampai kita terlambat mengantisipasi ini. Kita harus
mencoba mengatur agar arsitektur kota kita tidak kehilangan
kepribadiannya," kata menteri yang juga arsitek tamatan ITB
tersebut.
Karena masalah yang dihadapi masyarakat perkotaan di Indonesia
begitu berbeda dengan kondisi di negara Barat, ujar Radinal, tidak
mungkin arsitektur kotanya mencontek atau berkiblat ke sana.
Ketua Tim Penasehat Arsitektur Kota (TPAK) DKI Mohammad
Danisworo memperkuat pernyataan Radinal.
"Masyarakat kita masih kuat ditandai dengan dualisme kehidupan
sosial, antara masyarakat agraris yang berurbanisasi dan
masyarakat industri," ujar guru besar ITB tersebut.
Karena itu, kata Danisworo, arsitektur pun harus mewadahi sekaligus
dualisme kehidupan itu dalam suatu interaksi sosial yang nyaman.
Hal ini memang menjadi agak rumit bila diterapkan pada properti
gedung.
Danisworo mencontohkan dengan rancangan di gedung tinggi. Di
bangunan jangkung, menurut dia, arsitek dapat merancang interaksi
sosial masyarakat pada ruang-ruang umum yang ditempatkan di
bagian podium [lantai-lantai bawah].
Namun, katanya, bagian podium tersebut diharapkan mememiliki
keterkaitan dengan bangunan lainnya agar interaksi para pengguna
bangunan dapat berjalan maksimal.
Sedangkan di tubuh bangunan sendiri, ujar Danisworo, arsitek atau
pengembang bisa lebih mengedepankan aspek teknologi dan
efisiensi bangunan.
Pasalnya, gedung tinggi harus mempertimbangkan banyak faktor
seperti pengorganisasian struktur, mekanikal, elektrikal, utilitas dan
gempa.
Namun pada puncak bangunan, arsitek dapat membubuhkan
rancangan yang diinspirasi arsitektur lokal. "Duplikasi bangunan
tidak akan terjadi kalau mau mempertimbangkan kekhasan unsur
arsitektur lokal," ungkap Danisworo.
Pusat kekuasaan
Melihat sejarahnya, karya arsitektur di manapun berada tampaknya
lekat dengan pusat kekuasaan dan kekuatan yang ada dalam satu
komunitas manusia.
Lukman Purnomosidi, manajer divisi Realty dan Properti PT Wijaya
Karya, menjelaskan bahwa inspirator karya arsitektur terkemuka di
dunia termasuk Indonesia pada zaman dahulu biasanya adalah
pertama pusat kekuasaan, raja misalnya.
"Raja membangun istana maka jadilah arsitektur keraton Jawa atau
istana Romawi," ujarnya.
Kelompok kedua adalah kekuatan keagamaan-dalam hal ini diwakili
oleh para pemuka agama. "Misalnya Borobudur yang menjadi pusat
keagamaan Budha." Ketiga, bisa juga yang terkait dengan kegiatan
olah raga.
Sekarang zaman berubah. Menurut Lukman, yang memberikan
corak pada suatu karya arsitektur tidak saja pusat kekuasaan atau
pusat keagamaan tetapi juga dunia usaha.
Itu terlihat dengan maraknya bangunan komersial seperti
perkantoran, hotel, hunian, pusat perbelanjaan dan kawasan rekreasi
di setiap kota di dunia.
"Jadi penggagasnya bertambah lagi. Yang memegang peranan
adalah pengembang dengan perencananya sendiri," ujarnya.
Tampaknya pada masa mendatang keinginan pengembang menjadi
kekuatan tersendiri yang akan mengatur jalannya sejarah arsitektur
di dunia, sebagai konsekuensi peran mereka yang amat dominan
sekarang ini.
Meski itu menjadi kencederungan, Lukman mengingatkan bahwa
pelaku dunia usaha-dalam hal ini adalah pengembang-seharusnya
tidak hanya berpikir pada satu dimensi [usaha] tetapi juga
mempertimbangkan dimensi yang lebih luas,
Menurut Lukman, ada beberapa hal yang perlu menjadi
pertimbangan antara lain adalah nilai-nilai [budaya] yang sudah ada,
teknologi yang lebih mengarahkan kepada efisiensi, penggunaan
material lokal, dan penggunaan arsitek lokal.
Ini menjadi perlu karena, menurut dia, "adalah karya yang
mereprenstasikan siapa dan jati diri pengembang."
Namun, Lukman tidak larut dalam romantisme kebangsaan belaka.
Dalam persaingan antarproyek properti, menurut dia, kekhasan
arsitektur Indonesia dapat menjadi selling point.
Sejarah membuktikan, hanya bangunan yang memiliki makna yang
mampu bertahan lama. Bangunan tanpa makna segera tergusur
masa, berganti rupa atau segera tak ada. Dan arsiteklah yang
berperan memberi makna pada bangunan.
Itu artinya, baik arsitek maupun arsitektur lokal masih punya 'gigi'
untuk berhadapan dengan para pengembang yang
mengatasnamakan tuntutan pasar.
Rahmi Fatimah, Eries Adlin & Idham Muchlis
meramalkan suatu saat hanya ada satu arsitektur untuk semua
tempat.
Ramalan itu mungkin ada benarnya. Sekarang saja dapat dicermati,
berbagai bangunan tinggi di sepanjang jalan protokol kota
menyiratkan hal itu. Gedung-gedung berbentuk kotakkotak yang
mirip satu sama lain.
Keseragaman tersebut di mata arsitek asal Jepang Kisho Kurokawa
terjadi akibat perkembangan teknologi dalam era modernisasi yang
berawal dari revolusi industri.
Berlakunya era modernisasi memaksa manusia-terlebih pengusaha-
cenderung berbicara pada satu sudut pandang, efisiensi. Gedung
tinggi berbentuk kotak-kotak sederhana lah contohnya.
Pengusaha, demi efisiensi dan mendapatkan ruang sebanyak
mungkin, tidak perlu repot memikirkan hal-hal yang berhubungan
dengan penerapan budaya pada arsitektur.
Dalam benak pemilik modal atau pengembang properti, sudut
pandang efisiensi itu juga menjadi perhatian para calon pembeli atau
penyewa bangunan mereka. Singkatnya, efisiesi adalah tuntutan
pasar.
Simak saja pemikiran Ciputra, taipan properti Indonesia. "Kami
hanya mengikuti selera pasar. Karena pasar lebih menyukai
arsitektur bergaya barat, kami mengembangkan arsitektur barat,"
katanya.
Sebagai pengembang, tentu Ciputra wajar berpendapat demikian.
Berkaca dari pandangan sesepuh dunia properti Indonesia, mungkin
sulit mengharapkan arsitektur lokal dapat berbicara dalam konteks
perancangan bangunan.
Maka tidak mengherankan bila ada desain gedung tinggi di sini yang
menjiplak mentah-mentah bangunan di luar negeri.
Perumahan tidak jauh berbeda. Boleh dibilang hampir seluruh
permukiman yang ada menawarkan rumah bermodel asing seperti
mediteranian, kalifornian atau art deco.
Suara berbeda muncul dari Adhi Moersid, pakar arsitektur.
"Arsitektur lokal bisa sangat ekonomis. Tinggal bagaimana kita
memilih,...mana yang dapat diambil dari arsitektur lokal."
Pendapat Adhi tersebut menyiratkan bahwa arsitektur lokal-yang
berkaitan dengan budaya-masih dapat bermain dalam era modern
maupun pasar bebas.
Adhi tampaknya sejalan dengan Kisho. Menurut arsitek Jepang itu,
abad ke-21 akan ditandai dengan kemunculan age of life.
Pada zaman era mesin, gaya internasional menjadi prototip
arsitektur modern yang tercipta dari produk standar hasil industri.
Produk tersebut diterima oleh sektor bisnis yang memproduksi
properti dan masyarakat kelas menengah sebagai pengguna.
"Model, norma, dan ide abad mesin didukung oleh universalitas yang
diwakili oleh semangat peradaban barat," katanya.
Simbiosis merupakan kata kunci dari Age of life yang diramalkan
Kisho. Era itu akan memadukan beberapa hal a.l. keberagaman
budaya, kemajemukan nilai, sejarah dan kepentingan pada masa
mendatang.
Arsitektur kota
Indonesia sebagai negara berkembang memiliki kondisi yang tentu
saja berbeda dengan negara maju. Keunikan kondisi di Indonesia,
antara lain, adalah arus urbanisasi yang amat deras sehingga
menumbuhkan arsitektur kota yang khas.
Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moochtar mengambil contoh
ibukota Jakarta. "15 tahun mendatang Jakarta akan menerima
penambahan 5 juta penduduk," katanya.
Bisa dibayangkan, Singapura saja berpenduduk 2,8 juta, dengan 1,8
juta di antaranya berstatus warga negara. Jadi, Jakarta akan dibanjiri
para pendatang hampir dua kali jumlah penduduk Singapura.
Dengan penduduk yang jauh lebih sedikit itu, Singapura terpaksa
mengubah sejumlah bangunan bernilai historis di menjadi pusat
perbelanjaan dan perkantoran terutama yang berlokasi dekat pusat
kota.
Tidak berlebihan apabila Radinal memandang bahwa perlu ada
kesiapan dini untuk mengantisipasi ledakan jumlah penduduk akibat
urbanisasi.
"Jangan sampai kita terlambat mengantisipasi ini. Kita harus
mencoba mengatur agar arsitektur kota kita tidak kehilangan
kepribadiannya," kata menteri yang juga arsitek tamatan ITB
tersebut.
Karena masalah yang dihadapi masyarakat perkotaan di Indonesia
begitu berbeda dengan kondisi di negara Barat, ujar Radinal, tidak
mungkin arsitektur kotanya mencontek atau berkiblat ke sana.
Ketua Tim Penasehat Arsitektur Kota (TPAK) DKI Mohammad
Danisworo memperkuat pernyataan Radinal.
"Masyarakat kita masih kuat ditandai dengan dualisme kehidupan
sosial, antara masyarakat agraris yang berurbanisasi dan
masyarakat industri," ujar guru besar ITB tersebut.
Karena itu, kata Danisworo, arsitektur pun harus mewadahi sekaligus
dualisme kehidupan itu dalam suatu interaksi sosial yang nyaman.
Hal ini memang menjadi agak rumit bila diterapkan pada properti
gedung.
Danisworo mencontohkan dengan rancangan di gedung tinggi. Di
bangunan jangkung, menurut dia, arsitek dapat merancang interaksi
sosial masyarakat pada ruang-ruang umum yang ditempatkan di
bagian podium [lantai-lantai bawah].
Namun, katanya, bagian podium tersebut diharapkan mememiliki
keterkaitan dengan bangunan lainnya agar interaksi para pengguna
bangunan dapat berjalan maksimal.
Sedangkan di tubuh bangunan sendiri, ujar Danisworo, arsitek atau
pengembang bisa lebih mengedepankan aspek teknologi dan
efisiensi bangunan.
Pasalnya, gedung tinggi harus mempertimbangkan banyak faktor
seperti pengorganisasian struktur, mekanikal, elektrikal, utilitas dan
gempa.
Namun pada puncak bangunan, arsitek dapat membubuhkan
rancangan yang diinspirasi arsitektur lokal. "Duplikasi bangunan
tidak akan terjadi kalau mau mempertimbangkan kekhasan unsur
arsitektur lokal," ungkap Danisworo.
Pusat kekuasaan
Melihat sejarahnya, karya arsitektur di manapun berada tampaknya
lekat dengan pusat kekuasaan dan kekuatan yang ada dalam satu
komunitas manusia.
Lukman Purnomosidi, manajer divisi Realty dan Properti PT Wijaya
Karya, menjelaskan bahwa inspirator karya arsitektur terkemuka di
dunia termasuk Indonesia pada zaman dahulu biasanya adalah
pertama pusat kekuasaan, raja misalnya.
"Raja membangun istana maka jadilah arsitektur keraton Jawa atau
istana Romawi," ujarnya.
Kelompok kedua adalah kekuatan keagamaan-dalam hal ini diwakili
oleh para pemuka agama. "Misalnya Borobudur yang menjadi pusat
keagamaan Budha." Ketiga, bisa juga yang terkait dengan kegiatan
olah raga.
Sekarang zaman berubah. Menurut Lukman, yang memberikan
corak pada suatu karya arsitektur tidak saja pusat kekuasaan atau
pusat keagamaan tetapi juga dunia usaha.
Itu terlihat dengan maraknya bangunan komersial seperti
perkantoran, hotel, hunian, pusat perbelanjaan dan kawasan rekreasi
di setiap kota di dunia.
"Jadi penggagasnya bertambah lagi. Yang memegang peranan
adalah pengembang dengan perencananya sendiri," ujarnya.
Tampaknya pada masa mendatang keinginan pengembang menjadi
kekuatan tersendiri yang akan mengatur jalannya sejarah arsitektur
di dunia, sebagai konsekuensi peran mereka yang amat dominan
sekarang ini.
Meski itu menjadi kencederungan, Lukman mengingatkan bahwa
pelaku dunia usaha-dalam hal ini adalah pengembang-seharusnya
tidak hanya berpikir pada satu dimensi [usaha] tetapi juga
mempertimbangkan dimensi yang lebih luas,
Menurut Lukman, ada beberapa hal yang perlu menjadi
pertimbangan antara lain adalah nilai-nilai [budaya] yang sudah ada,
teknologi yang lebih mengarahkan kepada efisiensi, penggunaan
material lokal, dan penggunaan arsitek lokal.
Ini menjadi perlu karena, menurut dia, "adalah karya yang
mereprenstasikan siapa dan jati diri pengembang."
Namun, Lukman tidak larut dalam romantisme kebangsaan belaka.
Dalam persaingan antarproyek properti, menurut dia, kekhasan
arsitektur Indonesia dapat menjadi selling point.
Sejarah membuktikan, hanya bangunan yang memiliki makna yang
mampu bertahan lama. Bangunan tanpa makna segera tergusur
masa, berganti rupa atau segera tak ada. Dan arsiteklah yang
berperan memberi makna pada bangunan.
Itu artinya, baik arsitek maupun arsitektur lokal masih punya 'gigi'
untuk berhadapan dengan para pengembang yang
mengatasnamakan tuntutan pasar.
Rahmi Fatimah, Eries Adlin & Idham Muchlis
Ketidakamanan Mengubah Arsitektur Kota Kita
KOTA Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia belakangan ini menunjukkan
perubahan pola desain arsitektur yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan
situasi sosial, ekonomi dan politik yang mengakibatkan meningkatnya
kerusuhan dan kekerasan akhir-akhir ini. Seringnya demonstrasi, kerusuhan
dan peledakan bom seperti yang terjadi di Gedung BEJ beberapa hari yang lalu
telah memberikan kesan, kota kita masih jauh dari aman. Keadaan ini memaksa
para warga kota untuk meningkatkan kewaspadaan dengan cara menerapkan
konsep-konsep arsitektur baru yang lebih menekankan pada sistem sekuriti
tinggi.
Perubahan ini bertolak belakang dengan konsep-konsep arsitektur tradisional
kita selama ini yang lebih berdasarkan unsur keterbukaan dan kebersamaan.
Perubahan ini saya katakan signifikan karena pertama, akan banyak
mempengaruhi pola hidup bersosial masyarakat kita. Kedua, akan mempengaruhi
arah perkembangan dunia arsitektur kita di masa mendatang ke arah yang tidak
lebih baik. Perubahan ini terlihat dari disain fisik lingkungan-lingkungan
terkecil seperti rumah tinggal, maupun disain dari bangunan atau lingkungan
yang lebih besar seperti komplek perumahan, perkantoran dan pertokoan.
Secara garis besar disain arsitektural dari bangunan-bangunan tersebut
mengarah pada bangunan-bangunan yang tertutup, defensif, tidak ramah.
Slogan-slogan manis tentang Indonesia yang dikenal selama ini, seperti
negara yang penduduknya ramah, toleran, saling tolong menolong, akrab, dan
sebagainay tampaknya tinggal kenangan belaka. Kenyataannya telah berubah
menjadi masyarakat yang tidak ramah, tidak punya toleransi, individualis,
egois dan tidak disiplin. Hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi, sosial
dan politik kita selama ini yang menyebabkan banyak kekacauan dan kejahatan
dimana puncaknya terjadi dua tahun belakangan ini.
Kondisi sosial semacam ini secara konstruktif mempengaruhi pembentukan
lingkungan arsitektur kita. Rumah-rumah tinggal semakin banyak yang
menggunakan konsep orientasi ke dalam, sehingga melahirkan konsep baru yang
lebih tertutup dan defensif. Konsep semacam ini menggambarkan situasi tidak
aman, rasa ketakutan dan ketidakpercayaan kepada orang lain. Tidak ada akses
interaksi yang cukup terhadap tetangga, apalagi dengan lingkungan lain yang
lebih besar. Konsep semacam ini akan lebih membentuk sifat individualistis,
saling curiga serta egois yang semakin tinggi terutama bagi anak-anak yang
hidup pada lingkungan tersebut.
Keterbukaan dan interaksi sosial yang tinggi yang terlihat di
kampung-kampung atau di kota kecil, tidak lagi bisa dilihat sebagai proses
interaksi alami yang menggambarkan kehangatan budaya kita. Interaksi sosial
tersebut bisa jadi karena keterpaksaan. Karena masyarakat ekonomi lemah
tersebut tidak mampu membiayai diri untuk melakukan rekayasa efensive untuk
keamanannya. Jika ada di antara anggota masyarakat ekonomi lemah mengalami
peningkatan ekonomi pesat dan mempunyai kesempatan untuk membeli atau
membuat rumah tinggal maka tetap saja konsep defensif yang akan mereka
gunakan. Hal ini bisa difahami karena situasi dan keadaan lingkungan yang
tidak aman, secara tidak disadari akan mempengaruhi desain lingkungan binaan
mereka. Semakin tinggi tingkat ekonomi mereka semakin besar perhatian untuk
faktor keamanan dan keselamatan.
Demikian pula konsep disain yang terjadi pada bangunan-bangunan perumahan,
pertokoan ataupun perkantoran. Mereka cenderung menggunakan konsep single,
double atau bahkan triple layer protection. Misalnya, konsep orientasi ke
dalam dan defensif yang diterapkan di rumah-rumah tinggal mewah, mereka
menggunakan sistem alarm, kunci, anjing, satpam rumah sampai pada benteng
kompleks perumahan yang dikawal kelompok-kelompok preman. Konsep-konsep
semacam ini memecah belah masyarakat ke dalam satuan-satuan yang lebih kecil
sampai ke individual. Dan ini sangat berbeda dengan slogan masyarakat kita
yang katanya guyub, rukun, bersatu dan tolong menolong.
Peledakan bom yang terjadi di beberapa tempat dan yang terakhir di Gedung
BEJ, jelas akan memicu orang menggunakan konsep-konsep defensif berlapis
untuk perkantoran atau tempat-tempat umum di Indonesia. Bangunan yang
tadinya memberikan akses publik yang cukup leluasa akhirnya akan berubah
menjadi semi publik sampai semi privat dengan akses yang lebih kecil dengan
sistem sekuriti tinggi. Konsep-konsep ini membuat faktor kenyamanan publik
semakin berkurang. Jika kenyamanan terus berkurang membuat orang enggan atau
takut datang. Renovasi arsitektur dengan sistem sekuriti canggih dan
berlapis telah banyak terlihat pada bangunan-bangunan penting, termasuk di
antaranya kantor-kantor perwakilan negara asing.
Kita bayangkan jika kekacauan ekonomi, sosial dan keamanan ini terjadi
selama beberapa tahun maka, jelas pembangunan fisik arsitektural yang
terjadi pada saat itu akan menggunakan konsep-konsep yang mengantisipasi
kondisi yang ada. Jika hal ini terjadi selama lima tahun, maka pembangunan
fisik selama satu repelita akan menggunakan konsep "tertutup" atau "tidak
percaya orang lain" dan itu akan berdampak sangat besar terhadap wajah
arsitektur Indonesia. Bangunan-bangunan publik akan tidak lagi nyaman.
Permukiman dan rumah-rumah tinggal tidak lagi memiliki fasilitas interaksi
sosial yang layak untuk warganya. Kota kita akan menjadi kota yang
menakutkan dan menegangkan.
* Wakyu Dewanto PhD, pemerhati arsitektur, Direktur Eksekutif CARES
perubahan pola desain arsitektur yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan
situasi sosial, ekonomi dan politik yang mengakibatkan meningkatnya
kerusuhan dan kekerasan akhir-akhir ini. Seringnya demonstrasi, kerusuhan
dan peledakan bom seperti yang terjadi di Gedung BEJ beberapa hari yang lalu
telah memberikan kesan, kota kita masih jauh dari aman. Keadaan ini memaksa
para warga kota untuk meningkatkan kewaspadaan dengan cara menerapkan
konsep-konsep arsitektur baru yang lebih menekankan pada sistem sekuriti
tinggi.
Perubahan ini bertolak belakang dengan konsep-konsep arsitektur tradisional
kita selama ini yang lebih berdasarkan unsur keterbukaan dan kebersamaan.
Perubahan ini saya katakan signifikan karena pertama, akan banyak
mempengaruhi pola hidup bersosial masyarakat kita. Kedua, akan mempengaruhi
arah perkembangan dunia arsitektur kita di masa mendatang ke arah yang tidak
lebih baik. Perubahan ini terlihat dari disain fisik lingkungan-lingkungan
terkecil seperti rumah tinggal, maupun disain dari bangunan atau lingkungan
yang lebih besar seperti komplek perumahan, perkantoran dan pertokoan.
Secara garis besar disain arsitektural dari bangunan-bangunan tersebut
mengarah pada bangunan-bangunan yang tertutup, defensif, tidak ramah.
Slogan-slogan manis tentang Indonesia yang dikenal selama ini, seperti
negara yang penduduknya ramah, toleran, saling tolong menolong, akrab, dan
sebagainay tampaknya tinggal kenangan belaka. Kenyataannya telah berubah
menjadi masyarakat yang tidak ramah, tidak punya toleransi, individualis,
egois dan tidak disiplin. Hal ini disebabkan karena kondisi ekonomi, sosial
dan politik kita selama ini yang menyebabkan banyak kekacauan dan kejahatan
dimana puncaknya terjadi dua tahun belakangan ini.
Kondisi sosial semacam ini secara konstruktif mempengaruhi pembentukan
lingkungan arsitektur kita. Rumah-rumah tinggal semakin banyak yang
menggunakan konsep orientasi ke dalam, sehingga melahirkan konsep baru yang
lebih tertutup dan defensif. Konsep semacam ini menggambarkan situasi tidak
aman, rasa ketakutan dan ketidakpercayaan kepada orang lain. Tidak ada akses
interaksi yang cukup terhadap tetangga, apalagi dengan lingkungan lain yang
lebih besar. Konsep semacam ini akan lebih membentuk sifat individualistis,
saling curiga serta egois yang semakin tinggi terutama bagi anak-anak yang
hidup pada lingkungan tersebut.
Keterbukaan dan interaksi sosial yang tinggi yang terlihat di
kampung-kampung atau di kota kecil, tidak lagi bisa dilihat sebagai proses
interaksi alami yang menggambarkan kehangatan budaya kita. Interaksi sosial
tersebut bisa jadi karena keterpaksaan. Karena masyarakat ekonomi lemah
tersebut tidak mampu membiayai diri untuk melakukan rekayasa efensive untuk
keamanannya. Jika ada di antara anggota masyarakat ekonomi lemah mengalami
peningkatan ekonomi pesat dan mempunyai kesempatan untuk membeli atau
membuat rumah tinggal maka tetap saja konsep defensif yang akan mereka
gunakan. Hal ini bisa difahami karena situasi dan keadaan lingkungan yang
tidak aman, secara tidak disadari akan mempengaruhi desain lingkungan binaan
mereka. Semakin tinggi tingkat ekonomi mereka semakin besar perhatian untuk
faktor keamanan dan keselamatan.
Demikian pula konsep disain yang terjadi pada bangunan-bangunan perumahan,
pertokoan ataupun perkantoran. Mereka cenderung menggunakan konsep single,
double atau bahkan triple layer protection. Misalnya, konsep orientasi ke
dalam dan defensif yang diterapkan di rumah-rumah tinggal mewah, mereka
menggunakan sistem alarm, kunci, anjing, satpam rumah sampai pada benteng
kompleks perumahan yang dikawal kelompok-kelompok preman. Konsep-konsep
semacam ini memecah belah masyarakat ke dalam satuan-satuan yang lebih kecil
sampai ke individual. Dan ini sangat berbeda dengan slogan masyarakat kita
yang katanya guyub, rukun, bersatu dan tolong menolong.
Peledakan bom yang terjadi di beberapa tempat dan yang terakhir di Gedung
BEJ, jelas akan memicu orang menggunakan konsep-konsep defensif berlapis
untuk perkantoran atau tempat-tempat umum di Indonesia. Bangunan yang
tadinya memberikan akses publik yang cukup leluasa akhirnya akan berubah
menjadi semi publik sampai semi privat dengan akses yang lebih kecil dengan
sistem sekuriti tinggi. Konsep-konsep ini membuat faktor kenyamanan publik
semakin berkurang. Jika kenyamanan terus berkurang membuat orang enggan atau
takut datang. Renovasi arsitektur dengan sistem sekuriti canggih dan
berlapis telah banyak terlihat pada bangunan-bangunan penting, termasuk di
antaranya kantor-kantor perwakilan negara asing.
Kita bayangkan jika kekacauan ekonomi, sosial dan keamanan ini terjadi
selama beberapa tahun maka, jelas pembangunan fisik arsitektural yang
terjadi pada saat itu akan menggunakan konsep-konsep yang mengantisipasi
kondisi yang ada. Jika hal ini terjadi selama lima tahun, maka pembangunan
fisik selama satu repelita akan menggunakan konsep "tertutup" atau "tidak
percaya orang lain" dan itu akan berdampak sangat besar terhadap wajah
arsitektur Indonesia. Bangunan-bangunan publik akan tidak lagi nyaman.
Permukiman dan rumah-rumah tinggal tidak lagi memiliki fasilitas interaksi
sosial yang layak untuk warganya. Kota kita akan menjadi kota yang
menakutkan dan menegangkan.
* Wakyu Dewanto PhD, pemerhati arsitektur, Direktur Eksekutif CARES
ARSITEKTUR JENGKI
Sampai saat Majalah Arsindo ini sampai ditangan pembacanya. Berapa
banyak langgam Arsitektur yang telah hadir dihadapan kita? Pasti
susah untuk menghitungnya. Tetapi kalau kepada setiap arsitek
Indonesia ditanya mengenai langgam-langgam tadi, dengan lancar
mereka akan menjelaskannya. Terutama langgam mancanegara. Misalnya,
Post Medern, Modern, Art Deco dan lain sebagainya. Tapi jika
mereka ditanya apakah mereka tahu bahwa khasanah arsitektur
Indonesia pernah punya langgam yang mencerminkan semangat
kemerdekaan. Rasanya tidak banyak yang tahu. Melalui hasil wawancara
dengan Ir. Joseph Priyotomo. M.Arch mengenai arsitektur Jengki
ini diharapkan akan menambah wawasan para arsitek Indonesia
mengenai langgam arsitekturnya sendiri.
Kelahiran Arsitektur Jengki
Pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan sekitar tahun 1950-1960-an.
Sebagai hasil dari kemerdekaan. Timbul semangat pembebasan diri dari
segala hal yang berbau kolonialisme. "Dilain sisi, kemerdekaan
itu terjadi pada saat kita tidak memiliki tenaga ahli asing",
jelas Ir. Joseph. Tenaga ahli asing yang ada sebagian besar orang
Belanda. Karena adanya pertikaian antara Indonesia dengan Belanda
mengenai Irian Jaya, mereka harus meninggalkan Indonesia.
Pembangunan tidak boleh berhenti. "Sementara itu timbul keinginan
kuat untuk menampilkan jati diri bangsa yang merdeka", tutur arsitek
yang akrbat dipanggil pak Joseph ini. Dalam keadaan yang serba
sulit ini, pemerintah Indonesia memanfaatkan siapa saja yang
mampu bekerja dibidang konstruksi. Kebetulan kemampuan bekerja
ini dimiliki oleh mereka yang pernah bekerja di perusahaan
konstruksi pada masa pendudukan. Misalnya kantor Pekerjaan Umum,
Biro Arsitek atau Kontraktor Belanda. Kebanyak dari mereka hanya
lulusan STM. Sebab lembaga pendidikan yang dimiliki untuk mendidik
ahli bangunan pada masa itu hanya sampai tingkat STM. Mereka
inilah yang dipaksa melakukan pembangunan. Karena hanya lulusan
STM, tentu saja ilmu arsitektur mereka tidak seperti yang sarjana.
Tetapi keuntungan yang mereka peroleh pada masa itu, STM pada masa
itu juga diajarkan dasar-dasar ilmu arsitektur. "Inilah yang
menjadi pegangan para lulusan STM pada masa itu" tambah pak Joseph.
Para tenaga ahli dadakan ini punya kesempatan untuk menunjukkan
skil ke Indonesia-annya. Namun didalam hati, mereka juga
mempertanyakan ilmu arsitektur yang dimiliki. Usaha mempertanyakan
ini tidak sempat mereka renungkan. Tetapi harus segera ditunjukkan
dengan jawabannya. Karena mereka harus langsung bekerja. Pada
waktu itu, semangat nasionalisme yang kuat sedang tumbuh disetiap
hati rakyat Indonesia, termasuk para ahli dadakan ini. Dengan
landasan nasionalisme yang kuat, timbul usaha untuk tidak
membuat apa yang telah dibuat Belanda. Dengan kata lain tidak
boleh seperti itu. "Nah, itulah yang mendasari lahirnya Arsitektur
Jengki" kata pak Joseph.
Ciri-ciri Arsitektur Jengki
Langgam arsitektur Kolonial pada waktu itu banyak didominasi
oleh bidang-bidang vertikal dan horisontal. Langgam Arsitektur
Jengki justru berlawanan. Arsitektur Jengki bermain dengan garis
lengkung dan lingkaran. Misalnya, jendela yang tidak simetris,
overstek yang meliuk-liuk, garis dinding yang dimiringkan.
Bentuk-bentuk yang tidak semestinya pada masa itu. "Arsitektur
Jengki hanya mengolah perwajahan bangunan, baik itu luar maupun
dalam", jelas pak Joseph lagi. Selain wajah bangunan, juga
perabot rumah. Misalnya meja tamu dan kursinya. Bentuk tata
ruangnya masih mengikuti tata ruang bangunan Kolonial. Hal ini
terjadi karena keterbatasan ilmu arsitektur tadi.
Arsitektur Jengki juga mempergunakan bahan-bahan bangunan asli
Indonesia. Bahan yang dipergunakan harus bahan jadi, tidak
boleh mentah maksudnya dari perancangannya ketika itu. Untuk
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri
bahan bangunan yang diperlukan. Hasilnya adalah permukaan
bangunan yang dikasarkan, misalnya. Dikasarkan bukan kerikil,
karena kerikil yang diolah semacam itu buatan Belanda.
Permukaan kasar dibuat dari semen yang disemprotkan ke dinding
dan pemakaian roster. Pada bagian penutup atap juga diolah
sedemikian rupa. Kalau pada waktu itu bangunan Jengki dibuat
seperti jambul. "Sepertinya sengaja menghilangkan yang berbau
Belanda. Sehingga saya dapat mengambil kesimpulan bahwa
Arsitektur Jengki murni hasil pemikiran bangsa Indonesia.
Saya juga mencoba melihat literatur luar negeri kalau mungkin
ada satu langgam yang dipakai untuk Arsitektur Jengki. Ternyata
tidak ada", tambahnya. Melihat hal ini pak Joseph mengambil
kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki adalah murni karya bangsa
Indonesia. Tidak berkiblat kepada aliran arsitektur manapun
di dunia termasuk juga Arsitektur Nusantara (kata Indonesia
ada setelah 17 Agustus 1945).
Semangat dekoratif yang dimiliki oleh para arsitek pada saat
itu cukup kuat dan bagus. Unsur dekoratif inilah yang oleh
pak Joseph dianggap mewakili arsitektur Nusantara. Kalau kita
perhatikan, pada setiap arsitektur tersebut? Dekoratifnya.
Jadi Arsitektur Jengki menghadirkan Arsitektur Nusantara lewat
unsur ini. Bukan lewat bentuk. "Semangat Bhineka Tunggal Ika
hadir melalui arsitektur Jengki. Oleh sebab itu saya dapat
mengatakan bahwa Arsitektur Jengki adalah arsitektur Indonesia
yang pertama", tegas arsitek alumni ITS tahun 1976 ini.
Contoh bangunan dengan arsitektur Jengki ini dapat kita lihat
pada rumah-rumah dikawasan Kebayoran Baru untuk Jakarta. Di
Surabaya misalnya Stadion Gelora Pancasila, Pabrik Coklad di
Jl. Kalisari dan rumah tinggal di Jl. Embong Ploso 12 (saat
tulisan ini dibuat sudah dirobohkan). Biasanya unsur Jengki
lebih banyak hadir pada bangunan rumah tinggal. Mengenai hal
ini pak Joseph menambahkan, "tidak adanya dana untuk membangun
menyebabkan lebih banyak rumah tinggal". Hal ini juga diakui
oleh Van Lier Dame ketika berjumpa dengan beliau. Van Lier Dame
pada sekitar tahun 1950 bekerja di Indonesia sebagai arsitek.
Dia mengakui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia
ketika itu adalah kelangkaan bahan dan kemiskinan uang.
Sehingga merekapun dituntut bekerja secara efisien.
Mengapa Disebut Jengki?
Ada beberapa pendapat mengapa langgam ini disebut Jengki.
Misalnya dari kata Yangkee, sebutan untuk tentara Amerika dalam
arti yang negatif. Namun arsitek Malang 48 tahun silam ini
mengambil dari sebuah metode pakaian pada waktu itu, seperti
misalnya celana Jengki, baju jengki, mode yang sedang trend
sekitar tahun 50-an.
Saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya
banyak sekali hadir bangunan dengan langgam yang mirip
dengan Jengki. Menjawab pertanyaan ini, Pak Joseph menjelaskan
bahwa tidak bisa disamakan. Mengapa? karena arsitektur Jengki
ketika itu merupakan pembongkaran terhadap arsitektur Belanda.
Kalaupun ingin disebut sebagai dekonstruksi, maka yang kita
lihat sekarang ini adalah dekonstruksi babak II. Langgam yang
hadir melalui tangan-tangan arsitek muda ini oleh pak Joseph
dikatakan beraliran Lead Modern. Arsitektur Jengki hadir
pada masa itu karena semangat ingin bebas dari pengaruh
kolonial, sedang bentuk-bentuk yang hadir sekarang ini tentu
hadir dengan semangatnya sendiri.
Arsitektur Jengki pernah hadir menambahkan khasanah arsitektur
Indonesia. Lahir oleh karena keadaan yang memaksa. Kalau sampai
saat ini kita masih disibukkan dengan mencari bentuk arsitektur
Indonesia (yang ke-2?) dan belum menemukannya, mungkinkah
karena semangat, tujuan dan keadaan yang mendasarinya berbeda?
Jawabannya terletak pada jati diri kita masing-masing yang
sekarang ini mengaku dirinya sebagai Arsitek Indonesia.
Arsitektur Indonesia
Majalah Komunikasi Arsitek Indonesia
banyak langgam Arsitektur yang telah hadir dihadapan kita? Pasti
susah untuk menghitungnya. Tetapi kalau kepada setiap arsitek
Indonesia ditanya mengenai langgam-langgam tadi, dengan lancar
mereka akan menjelaskannya. Terutama langgam mancanegara. Misalnya,
Post Medern, Modern, Art Deco dan lain sebagainya. Tapi jika
mereka ditanya apakah mereka tahu bahwa khasanah arsitektur
Indonesia pernah punya langgam yang mencerminkan semangat
kemerdekaan. Rasanya tidak banyak yang tahu. Melalui hasil wawancara
dengan Ir. Joseph Priyotomo. M.Arch mengenai arsitektur Jengki
ini diharapkan akan menambah wawasan para arsitek Indonesia
mengenai langgam arsitekturnya sendiri.
Kelahiran Arsitektur Jengki
Pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan sekitar tahun 1950-1960-an.
Sebagai hasil dari kemerdekaan. Timbul semangat pembebasan diri dari
segala hal yang berbau kolonialisme. "Dilain sisi, kemerdekaan
itu terjadi pada saat kita tidak memiliki tenaga ahli asing",
jelas Ir. Joseph. Tenaga ahli asing yang ada sebagian besar orang
Belanda. Karena adanya pertikaian antara Indonesia dengan Belanda
mengenai Irian Jaya, mereka harus meninggalkan Indonesia.
Pembangunan tidak boleh berhenti. "Sementara itu timbul keinginan
kuat untuk menampilkan jati diri bangsa yang merdeka", tutur arsitek
yang akrbat dipanggil pak Joseph ini. Dalam keadaan yang serba
sulit ini, pemerintah Indonesia memanfaatkan siapa saja yang
mampu bekerja dibidang konstruksi. Kebetulan kemampuan bekerja
ini dimiliki oleh mereka yang pernah bekerja di perusahaan
konstruksi pada masa pendudukan. Misalnya kantor Pekerjaan Umum,
Biro Arsitek atau Kontraktor Belanda. Kebanyak dari mereka hanya
lulusan STM. Sebab lembaga pendidikan yang dimiliki untuk mendidik
ahli bangunan pada masa itu hanya sampai tingkat STM. Mereka
inilah yang dipaksa melakukan pembangunan. Karena hanya lulusan
STM, tentu saja ilmu arsitektur mereka tidak seperti yang sarjana.
Tetapi keuntungan yang mereka peroleh pada masa itu, STM pada masa
itu juga diajarkan dasar-dasar ilmu arsitektur. "Inilah yang
menjadi pegangan para lulusan STM pada masa itu" tambah pak Joseph.
Para tenaga ahli dadakan ini punya kesempatan untuk menunjukkan
skil ke Indonesia-annya. Namun didalam hati, mereka juga
mempertanyakan ilmu arsitektur yang dimiliki. Usaha mempertanyakan
ini tidak sempat mereka renungkan. Tetapi harus segera ditunjukkan
dengan jawabannya. Karena mereka harus langsung bekerja. Pada
waktu itu, semangat nasionalisme yang kuat sedang tumbuh disetiap
hati rakyat Indonesia, termasuk para ahli dadakan ini. Dengan
landasan nasionalisme yang kuat, timbul usaha untuk tidak
membuat apa yang telah dibuat Belanda. Dengan kata lain tidak
boleh seperti itu. "Nah, itulah yang mendasari lahirnya Arsitektur
Jengki" kata pak Joseph.
Ciri-ciri Arsitektur Jengki
Langgam arsitektur Kolonial pada waktu itu banyak didominasi
oleh bidang-bidang vertikal dan horisontal. Langgam Arsitektur
Jengki justru berlawanan. Arsitektur Jengki bermain dengan garis
lengkung dan lingkaran. Misalnya, jendela yang tidak simetris,
overstek yang meliuk-liuk, garis dinding yang dimiringkan.
Bentuk-bentuk yang tidak semestinya pada masa itu. "Arsitektur
Jengki hanya mengolah perwajahan bangunan, baik itu luar maupun
dalam", jelas pak Joseph lagi. Selain wajah bangunan, juga
perabot rumah. Misalnya meja tamu dan kursinya. Bentuk tata
ruangnya masih mengikuti tata ruang bangunan Kolonial. Hal ini
terjadi karena keterbatasan ilmu arsitektur tadi.
Arsitektur Jengki juga mempergunakan bahan-bahan bangunan asli
Indonesia. Bahan yang dipergunakan harus bahan jadi, tidak
boleh mentah maksudnya dari perancangannya ketika itu. Untuk
menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mampu mengolah sendiri
bahan bangunan yang diperlukan. Hasilnya adalah permukaan
bangunan yang dikasarkan, misalnya. Dikasarkan bukan kerikil,
karena kerikil yang diolah semacam itu buatan Belanda.
Permukaan kasar dibuat dari semen yang disemprotkan ke dinding
dan pemakaian roster. Pada bagian penutup atap juga diolah
sedemikian rupa. Kalau pada waktu itu bangunan Jengki dibuat
seperti jambul. "Sepertinya sengaja menghilangkan yang berbau
Belanda. Sehingga saya dapat mengambil kesimpulan bahwa
Arsitektur Jengki murni hasil pemikiran bangsa Indonesia.
Saya juga mencoba melihat literatur luar negeri kalau mungkin
ada satu langgam yang dipakai untuk Arsitektur Jengki. Ternyata
tidak ada", tambahnya. Melihat hal ini pak Joseph mengambil
kesimpulan bahwa Arsitektur Jengki adalah murni karya bangsa
Indonesia. Tidak berkiblat kepada aliran arsitektur manapun
di dunia termasuk juga Arsitektur Nusantara (kata Indonesia
ada setelah 17 Agustus 1945).
Semangat dekoratif yang dimiliki oleh para arsitek pada saat
itu cukup kuat dan bagus. Unsur dekoratif inilah yang oleh
pak Joseph dianggap mewakili arsitektur Nusantara. Kalau kita
perhatikan, pada setiap arsitektur tersebut? Dekoratifnya.
Jadi Arsitektur Jengki menghadirkan Arsitektur Nusantara lewat
unsur ini. Bukan lewat bentuk. "Semangat Bhineka Tunggal Ika
hadir melalui arsitektur Jengki. Oleh sebab itu saya dapat
mengatakan bahwa Arsitektur Jengki adalah arsitektur Indonesia
yang pertama", tegas arsitek alumni ITS tahun 1976 ini.
Contoh bangunan dengan arsitektur Jengki ini dapat kita lihat
pada rumah-rumah dikawasan Kebayoran Baru untuk Jakarta. Di
Surabaya misalnya Stadion Gelora Pancasila, Pabrik Coklad di
Jl. Kalisari dan rumah tinggal di Jl. Embong Ploso 12 (saat
tulisan ini dibuat sudah dirobohkan). Biasanya unsur Jengki
lebih banyak hadir pada bangunan rumah tinggal. Mengenai hal
ini pak Joseph menambahkan, "tidak adanya dana untuk membangun
menyebabkan lebih banyak rumah tinggal". Hal ini juga diakui
oleh Van Lier Dame ketika berjumpa dengan beliau. Van Lier Dame
pada sekitar tahun 1950 bekerja di Indonesia sebagai arsitek.
Dia mengakui bahwa kendala utama yang dihadapi oleh Indonesia
ketika itu adalah kelangkaan bahan dan kemiskinan uang.
Sehingga merekapun dituntut bekerja secara efisien.
Mengapa Disebut Jengki?
Ada beberapa pendapat mengapa langgam ini disebut Jengki.
Misalnya dari kata Yangkee, sebutan untuk tentara Amerika dalam
arti yang negatif. Namun arsitek Malang 48 tahun silam ini
mengambil dari sebuah metode pakaian pada waktu itu, seperti
misalnya celana Jengki, baju jengki, mode yang sedang trend
sekitar tahun 50-an.
Saat ini di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya
banyak sekali hadir bangunan dengan langgam yang mirip
dengan Jengki. Menjawab pertanyaan ini, Pak Joseph menjelaskan
bahwa tidak bisa disamakan. Mengapa? karena arsitektur Jengki
ketika itu merupakan pembongkaran terhadap arsitektur Belanda.
Kalaupun ingin disebut sebagai dekonstruksi, maka yang kita
lihat sekarang ini adalah dekonstruksi babak II. Langgam yang
hadir melalui tangan-tangan arsitek muda ini oleh pak Joseph
dikatakan beraliran Lead Modern. Arsitektur Jengki hadir
pada masa itu karena semangat ingin bebas dari pengaruh
kolonial, sedang bentuk-bentuk yang hadir sekarang ini tentu
hadir dengan semangatnya sendiri.
Arsitektur Jengki pernah hadir menambahkan khasanah arsitektur
Indonesia. Lahir oleh karena keadaan yang memaksa. Kalau sampai
saat ini kita masih disibukkan dengan mencari bentuk arsitektur
Indonesia (yang ke-2?) dan belum menemukannya, mungkinkah
karena semangat, tujuan dan keadaan yang mendasarinya berbeda?
Jawabannya terletak pada jati diri kita masing-masing yang
sekarang ini mengaku dirinya sebagai Arsitek Indonesia.
Arsitektur Indonesia
Majalah Komunikasi Arsitek Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)
