KONGRES ke-7 Arsitek Asia di Jakarta tahun 1996 dahalu, dengan tema
"Kota yang berjiwa", menyisakan pertanyaan: jiwa siapa? Bukankah
suatu kota sebenarnya merupakan multifaset, karena banyak
aspirasi di dalamnya, yakni aspirasi penguasa kota, pengembang,
pemodal besar, dan masyarakat dengan berbagai tingkat sosialnya.
Lalu siapakah yang berhak memberikan jiwa? Nenek moyang kita
percaya bahwa setiap tempat mempunyai jiwa. Jiwa dari suatu
tempat dapat diketemukan 'genius loci', semangat pelindung yang
kepribadiannya memberikan karakter khusus suatu lokasi.
Dalam dunia modern seperti saat ini, kepercayaan dasar dari
keterkaitan dengan sesuatu yang kuno masih tetap dikukuhi.
Tempat-tempat yang secara tradisional dihormati, memiliki jiwa yang
jauh lebih baik dibandingkan tempat-tempat lainnya.
Aura tempat seperti itu akan memberikan pengaruh kepada
pendatang yang kemudian bermukim di situ. Mereka akan
menemukan kualitas kehidupan yang lebih baik, karena tempat itu
begitu dicintai sepanjang keberadaannya, sehingga tempat itu pun
"menjaga" siapa pun yang bermukim di sana.
***
NAMUN kita tidak lagi hidup dalam kebudayaan yang mengakui jiwa
suatu tempat, khususnya di kawasan perkotaan. Bangunan-
bangunan modern dan pencakar langit sekonyong-konyong hadir
seperti diciptakan dalam semalam.
Tingginya mobilitas, kesibukan yang terpusat kepada kepentingan
pribadi, sikap hidup yang makin materialistik dan hedonistik, orientasi
hidup kepada hasil, bukan kepada proses, membuat banyak orang
semakin meninggalkan akar. Mereka menghalalkan semua cara
untuk mencapai tujuannya.
Modernitas pun kemudian terwujud hanya dalam bentuk fisik, bukan
pada esensi dan fungsi. Simplifikasi adalah segalanya. Dan
arsitektur banyak kota besar di Asia saat ini tampaknya seperti
mengulang kesalahan yang terjadi pada awal abad ke-20 di Eropa :
sekadar menjadi citra dan bentuk komoditi ekonomis.
Pada situasi seperti itu, seperti pernah dikemukakan arsitek dan ahli
perencana kota Ir. Andy Siswanto MArch, MA, misi reformasi sosial
dari arsitektur modernpun ditinggalkan. Pembangunan permukiman
untuk massa dikacaukan dengan perumahan massal, seperti banyak
dilakukan pengembang dalam ekonomi pasar. Metode desain yang
rasional dikacaukan dengan menampakkan bangunan secara
rasional.
Saat ini pun arsitektur sebagai obyek dipisahkan dari makna sosial
karena obyek dianggap a-historis. Subyek arsitektur dan desain kota
bukan lagi masyarakat, tapi para pemberi pekerjaan, yakni penguasa
dan para pemilik modal.
Modernisme sukses dalam menciptakan konstruksi utilitarian bagi
kelompok masyarakat tersebut. Tapi ia gagal karena logika sosial
dari teknologi tidaklah netral. Misi awal modernisme menjadi terasa
utopis karena terseret dalam arus kapitalisme perkotaan. Kegagalan
ini tentu saja tidak bisa dilimpahkan kepada arsitektur semata-mata,
tapi lebih -pada kenaifan bangunan logika asal yang mendasarinya.
***
DALAM situasi seperti ini, jiwa suatu tempat harus dicari sendiri
secara imajinatif oleh penghuninya.
Berikut beberapa cara untuk menangkap jiwa dan dapat menjadi
pedoman kehidupan di tempat di mana kita bermukim, seperti dikutip
dari Elizabeth Vander Schaaf dalam majalan Utne Reader edisi
September/ Oktober 1994.
* Berikan perhatian untuk membentuk kehidupan bermasyarakat
dengan interaksi yang tulus antar anggota masyarakat. Apa yang
dirasakan terhadap pusat-pusat masyarakat? Di mana batas-
batasnya? Di mana dataran tinggi? Di mana dataran paling rendah?
Di mana mendapatkan air? Masih ada, dan masih mengalirkah?
* Kenali kapan tetangga Anda merayakan hari-hari sucinya, datang
dan tunjukkan perhatian Anda.
* Carilah kehidupan seperti apa yang ada di antara ruang-ruang?
Siapa yang tinggal di lorong? Di mana Anda bisa melihat burung? Di
mana tempat yang memungkinkan Anda bisa keluar dari mobil dan
menikmati udara segar? Di mana anak-anak bisa sejenak
melepaskan diri dari pengawasan orang dewasa?
* Carilah di mana semangat kehidupan. Siapa yang hidup di tempat
itu sebelum Anda tiba? Apakah pernah terjadi tragedi di sekitarnya?
Adakah rumah hantu di sekitar tempat itu? Kehidupan seperti apa di
sekitar Anda antara tengah malam sampai pukul 06.00?
* Tentukan bagaimana jiwa tempat itu terasa ke segenap
lingkungannya. Apa yang tumbuh di dekat rumah kita? Pohon,
bunga, sayuran, rumput liar atau tak ada sesuatu pun yang tumbuh?
Adakah tempat yang dinamai oleh anak-anak? Apa yang membuat
lingkungan itu dengan lingkungan lainnya? Di mana Anda bisa
menyapa seseorang yang bukan anggota keluarga atau tetangga di
depan rumah? Adakah kebutuhan-kebutuhan dasar bisa didapatkan
di lingkungan tanpa Anda harus menggunakan mobil? (mh)
sumber: kompas
Jumat, 17 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar