Jumat, 17 Juli 2009

Memadukan arsitektur apartemen & kantor

Banting setir. Istilah itu mulai ramai dibicarakan
pengembang. Maksudnya, semula mereka membangun rumah
mewah kini mulai memproduksi rumah menengah bawah. Tujuannya
tentu untuk mencari pasar yang lebih empuk.

Begitupun bagi pengembang yang lahannya kian menyempit, kini tak
lagi membangun rumah horisontal tetapi beralih ke apartemen.
Bukan hanya jenis produk yang berubah tetapi juga arsitektur dan
strategi pemasaran langsung berbalik 180 derajat.

Bagi Thomas Tjandrakusumah, asistant director PT Summarecon
Agung,strategi banting setir penting untuk memasarkan produk.
"Harus diakui bahwa pasar menengah atas makin lemah, sementara
pasar kelas bawah sangat kuat," ujarnya.

Tapi, tambahnya, harus diingat bahwa di antara mewah dan kelas
bawah ada celah yang belum tergarap maksimal. "Produk itulah yang
dibutuhkan konsumen," ujarnya.

Berangkat dari pemikiran itu, menurut Thomas, perusahaannya
membangun apartemen yang mengincar celah pasar antara bawah
dan mewah. "Produknya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan
selera konsumen," ujarnya.

Pengembang PT Sumarecon Agung, yang sukses memasarkan
perumahan dan pertokoan selama ini, pertengahan tahun ini
meluncurkan hunian vertikal apartemen Wisma Gading Permai yang
terletak di Bulevar Kelapa Gading.

'Perkawinan' arsitektur

Menurut Thomas, mengingat produknya relatif sederhana,
arsitekturnya pun harus mengikuti bangunan yang tidak terlalu besar.
Untuk itu dibutuhkan rancangan interior yang fleksibel.

Ng Ku Lai, technical advisor PT Summarecon Agung, mengatakan
arsitektur sederhana bagi apartemennya merupakan 'perkawinan'
antara Singapura dan Indonesia. "Ada beberapa apartemen di
daerah sub urban di Singapura yang seperti ini," ujar warga negara
Malaysia yang lama bermukim di Singapura itu.

Di sini, tambahnya, kami mencoba menawarkan produk ini dengan
gaya arsitektur yang fleksibel. Untuk bagian dalam, misalnya,
sengaja dibuat ruang-ruang khusus untuk AC. "Ini penting mengingat
cukup menghemat ruangan," ujarnya.

Begitu pun, menurut Lai, ruangan untuk menjemur pakaian yang
biasanya terabaikan. Banyak sekali apartemen yang membiarkan
penghuninya menjemur pakaian di luar jendela. "Anda bisa
bayangkan bagaimana pemandangan dari luar," ujarnya sambil
tersenyum.

Apartemen ini, tambahnya, menyiapkan ruang jemur yang kecil untuk
menghemat tempat tetapi cukup efektif. "Kelihatannya sederhana
dan spele tapi itu penting mengingat menjemur pakaian adalah
kebutuhan rutin setiap hari."

Apartemen dengan ukuran kecil, dalam pandangan Lai, tentu harus
pandai membagi dan mengatur ruangan. Misalnya untuk ruang tamu
yang membutuhkan paling tidak 9 m2. "Di apartemen yang kami
bangun, ruangan tamu dibuat di lantai dasar. Ya, semacam lobi di
hotel."

Selain menghemat tempat, tambahnya, juga menjaga privacy
penghuni. "Tamu tak perlu diajak masuk ke kamar. Di apartemen ini
disiapkan sedikitnya enam ruang tamu di lantai dasar," ujarnya.

Menurut Thomas, apartemen Wisma Gading Permai tiga menara
yang mencapai lebih dari 1.000 unit itu, telah terjual 98% dalam
tempo tiga bulan. Bulan lalu pengembang itu meluncurkan lagi tiga
menara apartemen sebanyak 1.193 unit Apartemen Gading Timur
yang berlokasi tidak jauh dari apartemen pertama.

Apartemen yang mengincar pasar kelas menengah dan menengah
bawah itu, menurut Thomas, dirancang unik baik harga maupun
penataan ruangnya. "Meskipun bukan apartemen mewah, namun
finishing-nya keramik."

Menurut dia, unit-unit ruangnya ditata sedemikian rupa sehingga
penghuninya dapat langsung menempati tanpa harus melakukan
renovasi besar-besaran.

Thomas menjelaskan ada empat tipe apartemennya yaitu tipe 37 M2,
43 M2, 35 M2, sampai 41 M2. Harga jualnya bervariasi antara Rp 50
sampai dengan Rp 70 juta.

Tiap menara apartemen dilengkapi dengan tiga lift, genset, dan
fasilitas parkir yang luas di tiap basement, lantai dasar, dan tempat
parkir khusus.

Menurut Thomas, menara A dan B Apartemen Kelapa Gading telah
diluncurkan pada September lalu. Menara A terjual 60% dan Menara
B sebanyak 30%. "Untuk menjaga lingkungan apartemen agar tetap
nyaman, kami hanya membangun 20% dari total luas lahan 1,3 ha,"
katanya.

Sisanya digunakan untuk taman parkir, arena bermain, taman-
taman, lahan terbuka lainnya.

Apartemen kantor

Jika selama ini dikenal istilah ruko alias rumah toko atau rukan
[rumah kantor], di Apartemen Gading Timur ada istilah baru untuk
apartemen kantor. "Sementara ini di Indonesia belum ada. Jadi agak
sulit mengistilahkannya," ujar Lai.

Di Singapura, tambahnya, ada beberapa produk seperti ini. Kantor
setinggi tiga lantai dengan luas sekitar 25.000 m2 dibangun menyatu
dengan apartemen. Memang menurut Lai, ini terobosan baru
sehingga kami juga belum tahu bagaimana respon masyarakat.

"Namun kami optimistis mengingat lokasi yang ditawarkan strategis
dan harga perkantoran ini relatif murah dibandingkan di prime area,"
ujar Lai.

PT Sumarecon Agung menawarkan dua lokasi apartemen di
lingkungan hunian itu. "Ini alternatif tepat untuk berhuni pada
kawasan yang menguntungkan untuk berniaga dan berinvestasi,"
ujar Thomas bernada promosi.

Kelapa Gading merupakan daerah di Jakarta Utara yang pada
mulanya rawa-rawa. Kini telah menjelma menjadi kawasan hunian
yang tumbuh pesat. PT Sumarecon Agung, pengembang pertama
yang pada tahun 1975 memulai mengembangkan hunian daerah itu
di atas lahan 10 ha dengan nama Kelapa Gading Permai.

Penduduk setempat menyebutkan daerah itu sebagai "tempat jin
buang anak." Setelah melalui perjalanan panjang kawasan kini
sebagai hunian prestisius yang kaya dengan fasilitas. Mulai dari
pusat perbelanjaan dan grosir, fasilitas pendidikan, pertokoan,
fasilitas olahraga, pusat jajan dan makanan, dan sarana komersial
lainnya, semua ada.

Citra kawasan Kelapa Gading pun kini makin dikenal luas sebagai
salah satu daerah elit di Jakarta.

Thomas mengaku banyak mengamati dan belajar dari pembangunan
apartemen oleh pengembang lain mengingat perusahaanya belum
banyak pengalaman dalam membangun apartemen.

Untuk itu, tambahnya, dalam soal ketepatan waktu penyelesaian
pembangunan kami berupaya untuk tidak melenceng dari komitmen
awal. "Kini telah mulai konstruksi pada saat pemasaran dimulai,"
kata Thomas.

Dari 20 bulan masa pembangunan yang dijanjikan kepada
konsumen, tambahnya, perusahaannya akan menyelesaikan dua
bulan lebih cepat. Wisma Gading Permai ditargetkan selesai pada
Desember 1977 untuk menara A dan awal 1998 untuk menara B &
C. Sedangkan Apartemen Kelapa Gading direncanakan selesai pada
Agustus 1998.

Dalam mengelola apartemen setelah dihuni, menurut Lai,
perusahaannya telah banyak belajar dari pengembang lain. "Kami
juga memiliki ahli-ahli yang akan mengelola apartemen ini selama
tahun pertama. Untuk selanjutnya akan diserahkan kepada penghuni
setelah mereka mampu mandiri," papar Ng Kui Lai.

Apartemen Gading Timur dan Wisma Gading Permai telah memiliki
ijin-ijin yang diperlukan dari Pemda setempat. Untuk tahap awal ini
Apartemen Gading Timur telah mengantongi ijin Blok Plan
No.2305/GSB/JU/III/96 pada 12 Juli 1996. Ijin pendahuluannya
01458/PIMB/PB/U/1996 tertanggal 13 Agustus 1996.

Sedangkan sertifikat HGB No.6128, berlaku sampai 27 Maret 2015.
Sementara apartemen Wisma Gading Timur telah mengantongi IMB
No.68/IP-STR/96 pada 3 September 1996. Untuk blok plannya
bernomor 1541/GSB/JU/X/94.

"Komitmen kami bukan cuma dalam membangun tepat waktu, tapi
juga menjamin keamanan penghuninya melalui kelengkapan
perijinan," ujar Thomas.

Mengurangi lalu-lintas

Pakar arsitektur Suwondo Bismo Soetedjo berpendapat bangunan
apartemen kantor pada umumnya bertujuan untuk mengurangi
beban transportasi ulang-alik dari hunian ke tempat kerja.

Menanggapi apartemen kantor Gading Timur, Suwondo menanyakan
terlebih dahulu apa tujuan kehadiran bangunan tersebut. "Kalau
memang tujuan pengadaannya untuk mengurangi lalu lintas, ya
memang baik," ujar mantan ketua Tim Penasehat Arsitektur Kota
(TPAK) DKI itu.

Guru besar arsitektur FTUI ini membenarkan di Singapura memang
banyak dibangun apartemen kantor. Biasanya pertokoan, dept. store
dan pasar swalayan berada di lantai-lantai bawah. Di atas itu
terdapat tempat parkir/garasi beberapa lantai.

Kantor dan apartemen menempati lantai-lantai atas. Lalu di puncak
bangunan terdapat restoran dan fasilitas hiburan seperti night club.

Dengan demikian, kata Suwondo, semua kebutuhan karyawan
perkantoran yang juga penghuni apartemen terpenuhi dalam satu
bangunan multifungsi, tanpa harus membebani lalu lintas di jalan
raya.

Rahmi Siti Fatimah & Lahyanto Nadie

Tidak ada komentar:

Posting Komentar