Jumat, 17 Juli 2009

Museum-museum Kesepian

Gedung Museum Nasional siang itu terasa begitu lengang di antara
keriuhan lalu lintas Jl. Merdeka Barat, Jakarta. Sepi dan terkesan
angker.

Gedung berarsitektur gaya masa penjajahan Belanda itu seolah
terasing dari hiruk pikuk kegiatan perkantoran di kiri kanannya.
Kelengangan kian terasa jika dibandingkan dengan keramaian
pengunjung Tugu Monas yang tak jauh di depannya.

Satu-satunya yang memberi petunjuk adanya kegiatan di Museum
Nasional itu adalah sebuah bus wisata yang terparkir di tengah
halaman. Sebuah bus yang mengangkut wisatawan asal Jepang.

Kelengangan ternyata bukan hanya monopoli Museum Masional.
Kesan angker dan terasing itu seolah telah menjadi trade mark
museum-museum di Jakarta seperti Museum Fatahilah, Museum
Bahari, Museum Tekstil, atau Museum Prasasti. Bahkan Museum
Nasional bisa dibilang paling beruntung di antara lainnya, karena
tergolong terawat cukup baik. Di museum lain bukan hanya
kelengangan yang tersirat tapi sekaligus kekumuhan dan kekotoran.

Kelengangan maupun kekumuhan museum-museum di Jakarta
menunjukkan betapa tak perhatiannya masyarakat Ibukota terhadap
jejak-jejak sejarah bangsanya. Ironisnya, justru orang-orang asing
yang terlihat peduli terhadap kekayaan budaya Bangsa Bahari ini.
Salah satu buktinya adalah bus wisatawan Jepang yang terparkir di
halaman Museum Nasional sebagaimana disebut di atas.

"Memang antusiasme orang asing berkunjung ke museum Gajah ini
cukup besar. Setiap harinya, bisa dipastikan puluhan hingga ratusan
wisatawan asing baik dari Eropa, Amerika, dan Asia, selalu datang
kemari," kata Drs. Subianto, kepala bidang bimbingan Museum
Nasional yang juga lazim disebut Museum Gajah ini.

Jadi tak perlu heran jika memasuki Museum Gajah, seolah sedang
berada di negeri lain. Bisa jadi Anda justru akan menjadi satu-
satunya orang berkulit sawo matang berbahasa Indonesia di antara
puluhan hingga ratusan pengunjung yang berambut pirang atau
berkulit kuning dengan mata sipit.

Perasaan asing itu barangkali yang dirasakan dua bersaudara, gadis
cilik dan kakaknya, yang asal Dumai, Riau, siang itu. Keduanya
sempat bengong ketika mendapati seluruh isi ruangan adalah bule-
bule dan orang-orang berkulit kuning yang tak mereka mengerti
bahasanya. Untungnya si gadis cilik Carolina segera menyeret
kakaknya untuk melihat-lihat isi museum yang dibangun pemerintah
Belanda tahun 1862 itu.

"Lina (Carolina) datang ke sini untuk membuktikan pelajaran sejarah
yang didapat dari sekolah. Ternyata cocok semua. Di sini Lina juga
bisa lihat berbagai macam patung, perhiasan emas dan berlian,
senjata, rumah adat, perahu dan banyak lagi lainnya. Lina tahun
depan akan ke sini lagi," kata Lina agak malu-malu yang segera
menggamit lengan kakaknya berlalu.

Situasi tak jauh beda juga terjadi di Museum Tekstil. Di sini pribumi
yang datang berkunjung justru akan menjadi orang asing di rumah
sendiri. "Terus-terang pengunjung yang datang kemari kebanyakan
orang asing. Biasanya, selain rekreasi mereka datang ke sini untuk
melakukan penelitian," kata kepala Museum Tekstil, Dra. Puspitasari
Wibisono, yang membenarkan bahwa minat warga Ibukota untuk
mengunjungi museumnya sangat memprihatinkan. "Apalagi koleksi
museum ini belum begitu dikenal dan jarang peminat." Puspitasari
pun melihat adanya dampak buruk dari kondisi itu. Ini, kata dia,
ditandai dengan sangat sedikitnya buku karya orang Indonesia yang
menelaah masalah tekstil Bangsa Bahari ini.

"Buku-buku yang ada tentang tekstil di Indonesia sebagaian besar
hasil karya orang asing," kata Puspita. "Lebih celaka lagi, saat ini
banyak koleksi yang seharusnya bisa dipajang di museum Indonesia,
ternyata malah ada di museum luar negeri. Dan kesulitan itu
semakin bertambah rumit, sebab untuk membeli koleksi tersebut
atau yang serupa, sudah sangat mahal harganya." Berbagai dampak
buruk akibat rendahnya animo masyarakat mengunjungi museum
juga diprihatinkan Muhammad Isha, pemandu wisata Museum
Nasional. Menurutnya, masyarakat Jakarta, sekarang ini lebih tertarik
datang ke pusat-pusat perbelanjaan, gedung bioskop, atau tempat
rekreasi, ketimbang ke museum.

"Padahal berkunjung ke museum sangat bermanfaat untuk
memperluas pengetahuan. Di sinilah kita bisa bercermin tentang
masa lalu kita. Di sana banyak tersimpan cerita tentang kebesaran
sekaligus kenaifan masa silam," kata Muhammad.

Rendahnya animo kunjung museum juga memunculkan keprihatinan
kalangan pendidik yang bersama murid-muridnya selama ini
mendominasi pengunjung museum. Sumadi, kepala sekolah SMA
Swasta di Salemba, yang suka menggiring anak didiknya datang ke
museum-museum Jakarta ini mengatakan bahwa rendahnya minat
kunjung masyarakat ke museum disebabkan oleh kurangnya
informasi.

Pada dasarnya, kata dia, minat masyarakat datang ke museum
belum mengkhawatirkan yang terlihat dari antusiasme anak didiknya
setiap kali dia bawa ke museum. Namun karena pemahaman
masyarakat yang terbatas akibat terputusnya informasi kegiatan
museum menjadikan mereka tak pernah memasukkan museum ke
dalam salah satu agenda wisata atau hiburan keluarga.

Untuk itu, kata Sumadi, pihak pengelola museum harus lebih aktif
dalam mempromosikan "dagangannya" misalnya mengatur ruang
dengan penataan lebih menarik, membuat pameran, lomba, seminar,
dan lain sebagainya. Selain itu, menurut dia, museum pun perlu
dilengkapi sarana bermain, parkir, serta restoran yang memadai dan
tertata rapi untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung.

"Dengan begitu anggapan masyarakat bahwa pergi ke museum
adalah melihat barang rongsokan dan buang-buang waktu akan
hilang dengan sendirinya," kata Sumadi.

Ucapan Sumadi bisa dibilang tak salah. Di Museum Nasional saja,
akibat keterbatasan ruang, kini terasa sesak dengan 109.342
koleksinya. Belum lagi masalah tempat parkir yang tak cukup luas.
Kondisi Museum Nasional itu jelas sangat bertolak belakang dengan
museum "kontemporer" macam Taman Mini Indonesia Indah dan
Monas yang tak pernah sepi pengunjung. Walaupun tak bisa
dipungkiri pengunjung di kedua museum ini lebih karena untuk
mencari hiburan dan rekreasi, sebagaimana dikatakan Tedjo Susilo,
Kepala Sub Direktorat Museum Umum.

"Taman Mini dan Monas memang masuk dalam kategori Museum.
Namun niatan masyarakat berkunjung ketempat tersebut tampaknya
melulu cari hiburan. Orang pergi ke Taman Mini umumnya karena
ingin menonton film di Keong Mas, atau jika pergi ke Monas hanya
karena ingin melihat Jakarta dari atas," kata Tedjo.

Tedjo justru melihat bahwa rendahnya animo masyarakat datang ke
museum konvensional karena belum merupakan budaya masyarakat
secara keseluruhan. "Melihat koleksi kekayaan budaya di museum,
bagi masyarakat kita belum merupakan kebutuhan primer. Ini sangat
berlainan dengan keadaan masyarakat di negara-negara yang telah
maju yang harus antri untuk masuk museum," kata Tedjo.

Namun, kata Tedjo, animo untuk datang ke museum sebetulnya tak
terlalu buruk jika mengacu pada jumlah pengunjung selama ini.
Menurut dia, pada periode tahun 1993-1994 saja jumlah pengunjung
untuk seluruh museum Jakarta tercatat sebanyak 1.445.601 orang.
Dari angka ini sebanyak 95.351 adalah orang asing, 4.580 peneliti,
dan sisanya sebanyak 763.800 orang adalah pengunjung domestik.

Selain itu, kata Tedjo, museum-museum yang ada saat ini
kondisinya sudah jauh lebih baik ketimbang sebelum ada Repelita.
"Waktu itu banyak gedung museum yang tidak terawat dengan baik.
Koleksinya penuh debu dan banyak yang dibiarkan rusak," kata
alumni UGM tahun 1971 ini.

Namun, jelas Tedjo, museum pernah mengenyam masa jaya yaitu
pada awal kemerdekaan hingga Museum Nasional pernah juga
mendapat sebutan Gedung Jodoh, karena banyak orang yang
mendapatkan jodohnya karena mengunjungi museum ini. Setelah
itu, berangsur-angsur pamor museum meredup hingga pada kondisi
terparah menjelang dekade 70-an.

Amburadulnya pengelolaan museum ketika itu, menurut Tedjo,
diperparah oleh berbagai aksi perampokan. Awal 70-an Museum
Nasional sempat dijarah kawanan perampok pimpinan gembong
penjahat, Kusni Kasdut --dihukum mati awal 80-an-- yang membawa
lari koleksi-koleksi terbuat dari emas dan batu mulia. Limabelas
tahun kemudian, perampokan serupa terulang. Kali ini giliran koleksi
keramik Tiongkok jadi sasaran perampokan.

"Memang tidak mengherankan museum sering dijadikan sasaran
kejahatan. Sebab di sini koleksinya banyak yang terbuat dari emas,
berlian, serta barang berharga lainnya," kata salah seorang petugas
keamanan yang enggan disebut namanya.

Meski kini kondisi museum jauh lebih baik, tapi Tedjo mengakui jika
masih belum mampu menandingi keramaian di masa jayanya. Dia
dan para pengelola museum pun sadar bahwa pembenahan
bagaimana pun tetap diperlukan untuk menarik pengunjung. Untuk
itu Museum Nasional dalam waktu dekat bakal berbenah untuk lebih
memberi nuansa sebagai tempat hiburan dan rekreasi. Menurut
Tedjo, Museum Nasional akan memperluas ruang pamerannya
selain juga melengkapi diri dengan fasilitas pendukung seperti arena
bermain, taman, dan gedung pertemuan.

Namun, kata Tedjo semua pembenahan itu tak ada artinya jika tak
didukung dana perawatan dan pegawai berkualitas yang selama ini
merupakan kendala umum museum-museum di Indonesia dan
Jakarta khususnya. Menurutnya, pemerintah semestinya sudah
harus memikirkan untuk membuka pendidikan khusus museum di
tingkat Universitas.

Namun, Tedjo tentu tak bermaksud, pembenahan tak perlu
dilakukan jika kendala klasik belum teratasi.

penulis:muhammad subarkah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar