Jumat, 17 Juli 2009

Tampil Bergaya di Kemang

RESTORAN-KAFE
Salah satu sudut Kemang. Di belakang McDonald's adalah
Champions. Kawasan ini kini berkembang menjadi kawasan dengan
restoran dan kafe penuh gaya.

SEBUAH wilayah di bilangan Jakarta Selatan yang tadinya tergolong
sepi, jalanannya agak sempit, terkenal terutama sebagai
permukiman orang asing, Kemang, seperti mendadak saja dalam
dua tahun terakhir ini menjadi wilayah "terang benderang". Artinya
"terang benderang" bukan sekadar kawasan itu menjadi arena
nongkrong "kaum gedongan" dengan kafe-kafe dan restorannya
yang eksklusif, melainkan kafe-kafe tersebut juga menggantikan
tempat sejenis di era sebelumnya yang biasanya berbau remang-
remang.

Ini mungkin memang bisa disebut era baru. Kebutuhan duniawi yang
beriringan dengan kemakmuran segolongan masyarakat telah
mencapai tahap berikut, yakni tahap stilisasi - penghalusan. Kelab-
kelab malam atau tempat bersantai remang-remang yang pernah
sangat marak di tahun 70-an bukan berarti tidak laku. Sepanjang Jl
Gajah Mada dan Hayam Wuruk ataupun Mangga Besar (disingkat
"mabes" oleh para pelanggannya) di Jakarta Kota tetap bergairah
dengan segala tempat hiburan seperti diskotek, tempat pijat, mandi
sauna, dan lain-lain. Seputar Blok M Jakarta Selatan marak dengan
berbagai kafe, restoran Jepang, Korea, dan kini beberapa klub
musik.

Kemang, di lain pihak, yang tadinya sepi kini seperti wanita yang
merias diri dalam penampilan paling elegan. Kalau malam hari Anda
melewati daerah itu terlebih di akhir pekan, mobil-mobil mewah
berjajar sepanjang jalan. Pola hiburan yang ditawarkan di sini
dengan berbagai restoran dan kafenya adalah pola yang
menghadirkan para tamu "sebagai aktor-aktris" dengan segala latar
belakang sosial mereka yang penuh gengsi. Kemang adalah setting
sosial: kafe-kafe eksklusif dan manusia-manusia indah.

***

DALAM hitungan Kompas, tak kurang dari 30 kafe-restoran di Jl.
Kemang (eks Bangka Raya) berikut tikungan-tikungannya seperti
Kemang Selatan dan Kemang Timur. Jumlah itu merupakan
loncatan tajam, kalau mengingat sampai sekitar akhir 80-an yang
menonjol di Kemang hanyalah Bob Shashlik (di atas supermarket
Kem Chick), Mama's Kitchen (kini menjadi Restoran Mama's) di
dekat Kem Chick, serta Amigos.

Sekarang, kalau diperhatikan, di satu blok saja yakni di sekitar
supermarket Kem Chick, selain Bob Shashlik dan Cafe de France di
situ berikut Restoran Mama, ada Granita, Espresso, Warung Si Doel,
dan sebuah restoran penyaji masakan India-Italia. Beberapa ratus
meter kemudian, bisa dijumpai Champions bersebelahan dengan
McDonald's. Tak jauh dari situ ada Pasir Putih dan akan segera
dibuka, Nevada.

Untuk pembaca di luar Jakarta, perlu diberitahukan letak kawasan itu
dibelah jalan Kemang bersambung dengan Ampera, membujur arah
utara-selatan. Di sebelah agak utara di satu kawasan ada Coterie,
Ratu Bahari, Chi Chi's Restaurant, Indiana, Galeri TC (singkatan
Twilite Cafe). Terus ke selatan bisa dijumpai Jimbani, Cafe de Paris,
Padzzi, Bawa Karaeng, Meksiko Restaurant, Jewel of India, Kemang
31. Pada jalanan yang agak masuk ada Amigos (di mana di
dekatnya ada Pizza HUT dan Dairy Queen) serta Padusi. Lebih
komplet lagi, di situ juga ada restoran take away (artinya beli dan
bawa pulang) yang menjual fish and chips (ikan dan kentang
goreng).

"Banyaknya restoran dan kafe di sini lebih menguntungkan. Sini
malah menjadi destination area," kata Tara dari Galeri TC yang
restorannya masih berumur beberapa bulan. Agaknya mereka
umumnya tidak terlalu cemas dengan kompetisi yang kemudian pasti
menjadi ketat. "Ada sih pengaruhnya, tetapi kami punya kiat sendiri-
sendiri untuk menjaring pengunjung," ujar M. Dayan dari Pasir Putih.
Fina Djohan, Direktur Utama Champions, tampaknya juga begitu
yakin bahwa mereka punya kekhasan sendiri-sendiri.

PADA tingkat mencari daya tarik masing-masing, lihatlah misalnya
Champions. Restoran yang merupakan resto waralaba (franchise)
dari sebuah restoran di Amerika ini menyebut diri sebagai "sports bar
and restaurant". Sebagai dekorasi restoran, mereka menyajikan
suasana olahraga dengan menampilkan memorabilia para
olahragawan dunia berikut layar-layar monitor lebar yang
menayangkan secara langsung siaran-siaran olahraga di berbagai
penjuru dunia, terutama Amerika. Fina yang pernah menjadi
pengurus Pelita Jaya mengaku, investasi restorannya sekitar Rp 4
milyar. Dari jumlah itu, sekitar Rp 500 juta untuk urusan dekorasi
termasuk memorabilia itu. Jadi, penampilan memang penting.

Jimbani, salah satu tempat yang paling riuh, menghadirkan suasana
Bali. Ukiran, perabot, patung, sampai pelayan yang menggunakan
kain kotak-kotak dan ikat kepala, semua bernuansa Bali. Terutama
akhir pekan, parkir mobil sepanjang jalan seputar situ menyemut
sampai ratusan meter.

Galeri TC, sejak semula katanya digagas sebagai tempat untuk para
pencinta seni. Kalau di tempat lain menghadirkan musik hingar-
bingar, TC menghasilkan konser musik klasik. Di dalam restoran itu
antara lain ada toko buku yang menjual buku, kartu, karya-karya
grafis, berikut pameran lukisan. Pelukis yang pernah berpameran di
situ adalah Adi Munardi, dengan corak lukisannya yang penuh gaya.
Kalau pameran lukisan umumnya dibuka pukul 20.00 malam dan
acara berakhir pukul 21.30, pada pembukaan pameran Adi tamu
pulang pukul 03.00 dinihari.

Pasir Putih menghadirkan suasana kelautan. "Kalau pasir putih
biasanya di pantai, kami perlihatkan bahwa pasir putih bisa di darat,"
kata Dayan mengenai restoran yang mengkhususkan makanan pada
sea food ini.

***

ADU sofistikasi penampilan memang menjadi ciri khas restoran-
restoran itu. Ini mungkin beriringan dengan majunya seni interior.
Kemakmuran yang ada telah memungkinkan direalisasikannya
gagasan-gagasan tentang interior yang sesuai dengan cita rasa yang
punya uang. Restoran Meksiko menghadirkan suasana modern
dengan warna-warna mencolok. Ini berbeda dengan misalnya
Jimbani, yang justru mengejar suasana eksotisme Timur, dalam hal
ini Bali.

Betapapun, ada persamaan-persamaan umum dari kafe-kafe itu.
Selain sofistifikasi dari gaya hidup yang ingin tampil "halus dan
elegan" tadi, mereka umumnya menghadirkan musik hidup (live
music). Suasana biasanya tidak remang-remang, melainkan dibuat
agak terang, sehingga orang bisa menyadari kehadiran orang lain
secara lebih jelas.

Mungkin ini berhubungan dengan kebutuhan pengunjung pada era
kemakmuran sekarang, antara lain kebutuhan untuk "melihat dan
dilihat". Mereka ini adalah para eksekutif di kota besar serta para
remaja yang orangtuanya berpunya. Dari percakapan dengan
beberapa kafe, pada umumnya mereka mengkalkulasi, pengeluaran
pengunjung di situ kalau dirata-rata sedikitnya Rp 40.000 per kepala.

Sofistikasi selera. Era remang-remang mulai berlalu, dan Kemang
yang menjadi tujuan baru itu seperti cermin dari keadaan yang lebih
luas, yakni eksposisi kemakmuran dan pergeseran pandangan:
bahwa kaya itu perlu dan tak perlu ditutup-tutupi. Di Kemang, mereka
bisa tampil penuh gaya.
(bre redana)

sumber:kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar