Jumat, 17 Juli 2009

Merenungi Arsitektur yang Tergusur

MASALAH nasionalisme di Indonesia muncul kembali sejalan dengan
menguatnya tekanan arus globalisasi multidimensi yang melanda semua
bagian bumi. Dari berbagai kasus skala nasional yang aktual, tercatat
"imbauan" agar mencintai produk ciptaan bangsa sendiri, sebagai salah satu
indikasi nasionalisme, kembali didengungkan dan terkesan diperkuat
gaungnya. Namun upaya-upaya ke arah itu justru berhadapan dengan
kecenderungan unik-alamiah-manusiawi masyarakat kita yang mungkin sulit
diubah.Dalam teori pola konsumsi, dikatakan masyarakat memiliki pola
konsumsi tertentu berbentuk siklus. Sebagai contoh, orang desa merasa
sangat bangga kalau membeli barang-barang modern (misal sepatu atau
pakaian) di kota, sedangkan orang kota bangga bila mampu membelinya di kota
yang lebih besar. Orang Jakarta, misalnya, senang berbelanja di luar negeri,
di Paris atau Singapura. Padahal bukan hal baru, sepatu kulit, tas kulit
atau pakaian wah berlabel made in luar negeri yang dibelinya sering justru
"hanya" bikinan Cibaduyut atau Desa Manding (sentra industri kerajinan
tradisional kulit di Bantul) Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebaliknya, orang
mancanegara mencari barang antik justru di desa-desa tradisional kita, bahkan
sampai di pelosok pulau-pulau terpencil di kawasan timur Indonesia. Pola
konsumsi seperti itu ternyata merembes jauh ke berbagai bidang kehidupan.
Contoh dalam bidang pendidikan misalnya, banyak iklan penawaran
pendidikan tinggi kita, agar terkesan bonafide mencantumkan backing dari
berbagai universitas luar negeri tertentu, termasuk menyebutkan pakarnya.
Dalam bidang arsitektur misalnya, kini sudah hampir biasa orang kota
mengkonsumsi material, peralatan atau asesories bangunannya buatan luar
negeri (Itali atau AS) betapa pun mahalnya. Di satu pihak harus diakui,
barang-barang semacam itu buatan luar negeri memang tinggi mutunya, namun
jelas menggambarkan betapa desainer dan produsen Indonesia selalu lemah dan
ketinggalan di belakang.Celakanya, pola konsumsi luar negeri minded bahkan
sudah merambah bidang jasa perencanaan dan perancangan arsitektur. Siapa
tidak kenal Wisma Dharmala di Jakarta dirancang oleh maestro arsitek kelas
dunia Paul Rudolf. Konon inspirasi desain diperoleh justru dari bangunan atap
bertumpuk (meru) yang lazim ada di desa-desa Pulau Bali. Bahkan karya
Rudolf itu dikagumi para arsitek Indonesia, disebut sebagai karya arsitektur
berjati diri Indonesia yang didambakan.Bandara Soekarno-Hatta kebanggaan
kita (tahun 1995 mendapat hadiah Aga Khan dari segi landscape dirancang
arsitek Perancis Paul Andreu, inspirasinya dikembangkan dari konsep
arsitektur tradisional Jawa. Konsepnya, sebagai pintu gerbang antarnegara,
Bandara Soekarno Hatta harus mencerminkan nilai-nilai budaya dan keunikan
alam tropis khas Indonesia. Konsep sense of place khas Jawa atau Indonesia
(menurut Andreu), wujudnya taman-taman antarmassa bangunan, yang diyakini
menjadi daya tarik kuat Bandara Soekarno-Hatta sempat mengherankan para
arsitek Indonesia dalam diskusi - presentasi Aga Khan di Yogyakarta
(November 1995). Taman-taman terbuka di bandara itu, sebenarnya adalah
gaya populer taman di rumah-rumah mewah kota-kota kita masa kini. Belum
pernah ada "kesepakatan" tentang kekhasannya. Keunikannya memang jauh
berbeda dari Taman Jepang yang sarat dengan napas meditasi Zen.Menara
Jakarta, diangankan menjadi simbol keberhasilan pembangunan bangsa,
konon sejak masih dalam status embrional juga telah menjadi made in luar
negeri. Lebih tragis lagi, hampir 90 persen desain kota (kawasan) baru dan
bangunan-bangunan masa kini di Jabotabek ditangani arsitek-arsitek
mancanegara, padahal setiap tahun pendidikan tinggi dalam negeri
menghasilkan lebih dari seribu (1.000) orang arsitek. Masih banyak fakta
dapat diungkapkan dan memperkuat gambaran ketersingkiran arsitek Indonesia
di negeri sendiri.

TAMPAKNYA masih relevan mengaitkan nasionalisme dengan perilaku bangsa
kita mengembangkan arsitektur. Ataukah era arsitek-arsitek nasional, seperti
Soejoedi, Silaban, atau Mangunwijaya memang hanya layak diposisikan
sebagai era masa lalu dan akan menjadi kenangan sejarah? Jawabannya
tergantung pada sikap dan cara pandang kita terhadap masalah dan
konteksnya. Menurut Cynthia C Davidson (editor buku Architecture beyond
Architecture diterbitkan dalam rangka Aga Khan Awards 1995) arsitektur dalam
era globalisasi mesti dipandang dengan cara baru. Arsitektur dalam era masa
kini sulit dikategorikan menurut batas-batas daerah (region), agama (religi),
bangsa (ras), atau lainnya sebab barat dan timur sulit ditentukan; dunia
telah menjadi satu.Dalam era globalisasi, demikian lanjutnya, kaidah-kaidah
tradisional yang bertemu dengan unsur-unsur baru mengalami kompromisasi.
Definisi place yang berubah, misalnya, mengharuskan perubahan pada definisi
arsitektur. Oleh karenanya paham regionalisme (Kenneth Frampton) perlu
dipikirkan kembali relevansinya masa kini. Dari pemikiran itu, kita dapat
belajar, arsitektur yang mementingkan sekat-isme (region, religi, atau ras)
lambat-laun akan kering dan ketinggalan zaman. Arsitektur masa kini bukanlah
arsitektur berlandaskan kategori atau asas sempit-parsial, melainkan
menjangkau dunia (mondial). Kejadian tingkat lokal, mau tidak mau dan suka
tidak suka, terkait dengan dinamika kehidupan tingkat dunia. Kecenderungan
munculnya pusat-pusat perbelanjaan mall (malisasi) di kompleks-kompleks
perumahan elit akhir-akhir ini, bukan sekadar akibat tekanan problematika
lokal, melainkan terkait dengan struktur-struktur sosial dan politik-ekonomi
skala dunia. Bahkan secara sangat tegas dikatakan Peter Eisenman (Critical
Architecture in Geopolitical World, dalam Architecture beyond Architecture,
Academy editions, 1995) kota-kota besar Seoul, Bangkok, Kuala Lumpur,
Jakarta, Singapore dan Shanghai merupakan wujud dari kolonisasi baru lewat
kekuatan ekonomi. Masalahnya, puaskah kita diposisikan sebagai "penonton
yang manis" pameran rekayasa arsitektur kelas dunia di kandang sendiri?
Pertanyaan itu pastilah mengusik semangat nasionalisme, sebab situasi
demikian berarti bentuk "penjajahan" baru dalam bidang arsitektur. Dengan
demikian, mau tidak mau, perlu direnungkan kembali semangat hidup dan
pilihan peran yang tepat bagi arsitektur kita, agar mati-matian menjadi
pelaku aktif di negeri sendiri. Meskipun sekat-sekat kategorial - sempit
makin memudar, namun tugas kompromisasi guna transformasi arsitektur yang
bermutu untuk masa kini dan masa depan tetap menjadi satu agenda penting.
Apalagi situasi globalisasi bagi Indonesia lebih berarti loncatan budaya
yang luar biasa. Artinya, sementara kita belum beranjak dari budaya
tradisional kesukuan, bahkan belum "menemukan" nasionalitas kita, kini sudah
berhadapan dengan kekuatan budaya baru yang jauh lebih canggih dan meniti
jalur evolusi yang berbeda sama sekali dari sebelumnya. Kita didorong
langsung masuk arus perubahan dan dipaksa siap berdialog dengan tingkat
kesiapan apa pun. Para arsitek di Indonesia perlu berubah dari pola pikir
konsumtif tradisional ke pola baru yang lebih terbuka, rasional, kompetitif
dan lebih canggih.Tekanan globalisasi tampaknya terlalu kuat hingga
membingungkan banyak pihak. Tentu para arsiteklah yang kompeten
menjawabnya, dan secara khusus pendidikan arsitektur di Indonesia
tertantang oleh situasi semacam itu.

DARI uraian di atas, tampak bahwa relevansi nasionalisme dengan arsitektur
makin penting. Namun karena situasi zaman berubah, diperlukan visi baru
untuk memandangnya. Artinya, diperlukan pemikiran kembali semangat dan
nilai nasionalisme dalam arsitektur, mengarah keterbukaan terhadap dinamika
kehidupan dunia. Suatu nasionalisme yang dibentuk lewat dialog langsung
sebagai pengalaman sejarah, bukan hasil sikap manja akibat proteksi. Sebab
nasionalisme sempit telah terbukti menjadi jebakan dan belenggu kemajuan
hidup manusia.Dunia pendidikan arsitektur Indonesia ditantang mampu
beradaptasi serta mengakomodasi perubahan dunia untuk menyiapkan lulusan
yang profesional, mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus
berskala dunia. Dengan kata lain dituntut mampu menyiapkan lulusannya
sebagai 100 persen arsitek nasional tulen sekaligus 100 persen arsitek dunia
sejati.Oleh karenanya, dalam perubahan kurikulum pendidikan arsitektur tahun
1995, kedua aspek tersebut di atas perlu dipertimbangkan secara mendalam
guna mencapai keunggulan nasional sumber daya manusia arsitek-arsitek
Indonesia. Masalahnya, mampukah kita dengan potensi dan instrumen-
instrumen pelaksanaan pendidikan arsitektur sekarang ini menyiapkan tenaga
berkualitas semacam itu? Padahal masih ada sebagian ahli berpandangan,
arsitektur itu hanya seni dan di Indonesia belum mencapai tingkat ilmu
pengetahuan (science). Dalam era persaingan bebas abad ke-21 suasana
kompetisi menjadi ciri menonjol; siapa kuat dialah yang dapat hidup terus.
Padahal masalah-masalah "intern" masih membelenggu dunia arsitektur kita,
misalnya: pendangkalan makna arsitektur, penghancuran bangunan-bangunan
kuno, dan pelecehan etika profesi. PR kita masih banyak. Kita memang perlu
bekerja lebih keras.

Ir Y Djarot Purbadi, pengajar jurusan arsitektur fakultas teknik
universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar